Murahnya tarif tiket KRL Commuter Line ibarat pisau bermata dua. Penumpang membeludak dan berdesak-desakan menjadi lumrah kendati tak nyaman. Penumpang rentan seperti ibu hamil, lansia dan ibu dengan anak-anak menjadi tersiksa. Sedikit penumpang yang berempati memberikan tempat duduknya.
Pemerintah siap mengoperasikan dua rangkaian kereta api ekonomi AC KA Krakatau dengan rute Merak-Madiun. Ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa transportasi dengan jarak yang jauh.
Tarif tiket KRL Commuter Line (CL) yang turun harga membuat penumpang makin membeludak. Gerbong yang berjejalan saat jam sibuk menjadi pemandangan lazim. Maka keluhan yang banyak didengar dari penumpang KRL adalah: tambah gerbong.
KRL Commuter Line (CL) semakin terjangkau karena subsidi plus tarif sesuai jarak. Namun sayang, kereta masih kerap terlambat datang dan AC sering mati. Penumpang mengeluhkan hal itu pada Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla rupanya punya kisah sendiri bepergian dengan kereta api. Perjalanan menuju Masjid Syuhada, Pekalongan untuk memberi ceramah pun digunakan JK untuk bernostalgia sejenak serunya naik kereta api.
Dengan tarif berdasarkan jarak, naik KRL Commuter Line (CL) kini menjadi murah dan penumpang pun melonjak. 'Yang penting terangkut' menjadi rumus utama.
Naik KRL Commuter Line yang kini tarifnya cukup murah memang punya beragam cerita. Banyak cara penumpang agar mendapatkan tempat duduk, mulai dari naik kereta tujuan sebaliknya, cuek duduk bersila di lantai meski sedang penuh dan lainnya.
Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) bertandang ke Pekalongan, Jateng. JK hendak menghadiri tabligh akbar dan silaturahmi dengan alim ulama dan pimpinan Dewan Masjid Indonesia se-Jawa Tengah.