Pelayaran yang tenang membuat saya tertidur dengan nyenyak, walaupun tidur di barak sekalipun. Jam 5 WITA pagi, saya sudahbangun dengan harapan mendapatkan sunrise di tengah laut.
Konon Pulau ini merupakan tempat berkumpulnya para waliyullah untuk mengadakan rapat-rapat dan memutuskan kebijakan strategis dalam keagamaan dan juga menyimpan potensi wisata yang mengagumkan.
28 Oktober 2011, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Team 20 Papua Barat yang terdiri dari Saya, Audrey dan Diana berkumpul di Bandara Soekarno Hatta jam 10 malam WIB. Kami akan melintasi WIB, WITA, dan WIT menuju Papua !
Tidak Jauh dari Kota Bau-Bau, sekitar lima belas menit ke arah barat dari Kota Bau-Bau, kita bisa mampir di Pantai Nirwana. Nah, Pantai Nirwana yang eksotis ini memang agak tersembunyi dan jarang dikunjungi.
Setelah berhasil mengibarkan bendera Aku Cinta Indonesia di Puncak Gunung Kerinci beberapa waktu lalu kini kami mencoba mengibarkan bendera tersebut di dasar laut Sabang, Pulau Weh - pulau paling barat Indonesia
Tiga hari setelah Lebaran, aku dan kelima temanku berlibur ke WBL (Wisata Bahari lamongan). Kami ke sana menggunakan sepeda motor. Pagi-pagi kami sudah berangkat dari rumah. Kami sepakat berangkat pagi agar sampai di sana lebih awal.
Hampir setiap hari Museum Pusaka Nias tidak pernah sepi dari pengunjung. Pengunjungnya pun tidak terbatas umur dan pekerjaan. Sebagai sebuah lembaga yang menyimpan benda-benda budaya dan sejarah.
Saat singgah di Meulaboh kami menginap di rumah penduduk. Dan cerita tentang tsunami 7 tahun silam masih melekat dalam ingatannya. Sebuah cerita sedih kembali terungkap. Teristimewa mendapat cerita langsung dari sumbernya
Pulau Samalona dapat ditempuh dalam 30-40 menit dengan kapal kayu, biaya sekitar IDR 400-500ribu rupiah. Pasir putihnya bersih dan pemandangan lautnya yang indah, cocoklah dijadikan tempat tujuan wisata.