Gubernur DKI Jakarta Jokowi kabarnya hampir pasti jadi cawapres Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Jika Jokowi mau jadi pendamping Mega, maka Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini punya peluang meroket.
Pemilu 2014 baru akan dilaksanakan pada 9 April 2014, namun 'libido politik' caleg pada 2014 sangatlah tinggi bahkan mengarah ke 'maniak politik'. Dengan berbagai cara mereka saat ini 'merayu' rakyat, namun yang penting rakyat atau pemilih jangan sampai tertipu.
Mendekati Pemilu semakin banyak muncul nama-nama tokoh yang diyakini dapat menjadi alternatif. Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait menyatakan bahwa PDIP juga memperhitungkan tokoh-tokoh tersebut.
Pemilu 2014 di depan mata, tak lama lagi seluruh rakyat Indonesia bakal memilih capres di ajang Pilpres. Masyarakat dinilai membutuhkan capres alternatif untuk memimpin bangsa ini ke depan, bukan muka lama alias jadul yang itu-itu saja.
Skenario duet Mega-Jokowi yang kembali menguat dinilai akan menyurutkan elektabilitas PDIP. Sosiolog Politik UGM Arie Sujito menilai bahwa Gubernur DKI Jakarta Jokowi sebaiknya diduetkan dengan tokoh muda alternatif.
"Antusiasme pemuda sangat tinggi kepada tokoh-tokoh alternatif. Kalangan pemuda membutuhkan harapan-harapan baru," ujar Najib saat berbincang, Rabu (12/2/2014) malam.
Komunike Bangsa Peduli Indonesia (KBPI) yang digawangi oleh Hamdi Muluk menantang 19 tokoh alternatif untuk menjadi capres. Salah satu nama yang muncul adalah mantan cagub DKI Jakarta Faisal Basri dalam kategori akademisi.
Sebanyak 8 pemimpin bisnis dan CEO diundang maju nyapres oleh kelompok gerakan Komunike Bersama Peduli Indonesia (KBPI). Mereka menilai sikap leadership, manajer, dan pekerja keras biasanya ada pada tokoh CEO.
Hamdi Muluk dan empat tokoh nasional lainnya mengundang 19 nama untuk maju nyapres 2014. Nama-nama itu berlatar belakang beragam mulai dari aktivis hingga CEO. Lalu, siapa paling berpeluang?