Pemerintah akan menekan jumlah pengiriman tenaga kerja luar negeri di sektor domestik atau pembantu rumah tangga. Sebagai gantinya, Indonsia akan mengirim tenaga kerja sektor informal seperti teknisi dan pekerja bangunan.
Wapres Boediono optimistis, dengan kerja keras, pembangunan ekonomi Indonesia akan mampu menyusul raksasa China dan India. Lapangan kerja di dalam negeri akan jauh lebih baik dari sekarang, sehingga masyarakat tidak perlu lagi merantau ke luar negeri sebagai TKI.
5 Orang buruh migran terpincang-pincang karena kakinya dirantai mengusung bola dunia raksasa setinggi 2 meter. Mereka membawa logo penindasan dunia terhadap ribuan buruh migran sepanjang Jalan MH Thamrin, Jakarta.
Saya sering kali mendengar keluhan dari sejumlah kawan mengenai negara Indonesia. Di mata mereka, tidak ada yang benar terkait dengan negara Indonesia. Namun, tidak satu pun yang berani atau berencana meninggalkan Indonesia.
Rieke 'Oneng' Pitaloka meminta pemerintah seharusnya malu karena tidak bisa menyediakan lapangan kerja di dalam negeri. Hasilnya, ribuan warga Indonesia bermigrasi ke Arab Saudi untuk mengadu nasib sebagai pembantu dan pekerja kasar yang lain.
Puluhan aktivis buruh migran menggeruduk Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi. Mereka menuding kerajaan tersebut sebagai pelaku kejahatan kemanusiaan karena membiarkan warganya menyiksa dan membunuh TKI yang bekerja di Arab.
Kasus Sumiati ini mengulang kasus-kasus serupa yang dialami beberapa TKW. Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah menegaskan, buruh migran bukanlah mesin ATM.
Peristiwa penyiksaan Sumiati Binti Salan Mustapa oleh majikannya di Arab Saudi harus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Untuk itu pemerintah didesak untuk membuat nota kesepahaman (MoU) perlindungan TKI dengan Arab Saudi.
Potret buram buruh migran sepertinya masih menjadi 'pemandangan' klasik. Sosiolog Ida Ruwaida mengatakan, sudah saatnya paradigma dalam melihat TKW berubah. TKW bukan sekadar sumber devisa, tapi juga duta bangsa.