Popularitas kuliner tradisional telah ikut berjasa melambungkan pecel madiun. Di Surabaya, salah satu rumah makan populer yang menyajikan pecel madiun adalah Warung Pecel Bu Kus. Uniknya nasi pecel Bu Kus disiram sayur lodeh. Loh kok?
Rumah makan yang ada di kawasan Gondangdia ini memang bisa jadi pengobat kangen mereka yang mencari Sate Ponorogo. Selain itu ada juga masakan rumahan lainnya seperti rawon dan nasi pecel.
Di Twitter, saya paling sering ditanya tentang tempat-tempat makan murah-meriah - dan wajib halal pula - di Bali. Kok sudah rencana liburan ke Bali masih cari makanan yang murmer? He he he, rupanya sudah kebanyakan blanja-blanji, sehingga jatah untuk makan ikut terpakai untuk belanja.
Jalan Gondangdia Lama (sekarang Jalan Raden Pandji Soeroso) agaknya memang merupakan "pusat" dari berbagai tempat makan djadoel. Ada RM Trio (Chinese), Mi Bakso Godila, RM Tinoor Baru (Manado), dan RM Hadir. Sayangnya, Art & Curio yang terkenal dengan bistik djadoel-nya sudah beberapa tahun ini hilang dari sana.
Setidaknya, ada dua daerah yang meng-claim sambal tumpang sebagai kuliner tradisional mereka. Kedua daerah itu adalah Solo dan Kediri. Sambal tumpangnya sama, hanya cara menyajikannya yang berbeda. Penasaran?
Pecel khas Madiun ini sambalnya gurih pedas, mlekoh dengan taburan mlandingan, kemangi dan timun plus rempeyek teri. Setelah diaduk dan disuap dengan kerupuk gendar hmm... sensasinya memang jadi enak dan sedap!
Sejak kasus pemakaian formalin dalam tahu, tahu yang berasal dari negeri Cina ini turun pamor. Orang lebih berhati-hati menyantap olahan kedelai yang gurih-gurih sedap ini. Sekali ini saya harus menyerah pada selera. Akibat kangen setengah mati menyantap tahu yang lembut, gurih, panas mengepul plus menggigit cabai rawit. Wah!