Sudirman Said berbicara mengenai nalar publik. Dia kemudian menyinggung harga minyak goreng hingga UU Ibu Kota Baru yang prosesnya dinilai secepat kilat.
Lusia yang naif. Tidak semua lelaki sebaik yang ia imajinasikan. Apa ia lupa bagaimana ibunya yang malang itu terjebak oleh ayahnya hanya bermodal kata-kata.