Pernyataan OPEC yang menolak kenaikan produksi membuat harga minyak kian memanas. Ditambah pelemahan dolar AS, harga minyak kembali mencatat rekor terbarunya.
Nilai tukar rupiah pada penutupan sore ini, Senin (21/4/2008) ditutup cenderung stabil. Hal ini disebabkan rupiah tertekan sentimen negatif dan positif.
Negara-negara penghasil minyak utama dunia menolak permintaan untuk menaikkan tingkat produksinya, meski harga minyak mentah dunia sudah melonjak hingga berlipat-lipat.
Rupiah dibayangi tekanan dari tingginya harga minyak dunia yang kini mencapai US$ 117 per barel. Pelaku pasar antisipasi tingginya kebutuhan valas untuk impor minyak.
Nilai tukar rupiah pada akhir pekan ini, Jumat (18/4/2008) nyaris tidak bergerak. Rupiah ditutup menguat 3 poin ke level Rp 9.181 per dolar AS. Penguatan rupiah ini terpengaruh penguatan tipis IHSG.
Posisi rupiah pagi ini hanya bergeser sedikit dari penutupan Kamis kemarin (17/4/2008) di level 9.186 per dolar AS. Ruang gerak rupiah yang terbatas karena minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat mata uang lokal ini berada di posisi yang stabil.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sore hari ini, Kamis (17/8/2008 melemah tipis empat poin di posisi Rp 9.159/9.207 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya yang ada di posisi Rp 9.191/9.205 per dolar AS.
Kejatuhan mata uang dolar AS terhadap euro tidak terlalu berpengaruh ke rupiah. Mata uang lokal ini tidak bisa memanfaatkan kejatuhan dolar AS karena ruang pergerakannya yang terbatas.
Pada perdagangan valas pukul 08.00 WIB, Rabu (16/4/2008) rupiah ada di posisi 9.202 per dolar AS dan ditransaksikan dikisaran 9.190-9.215 per dolar AS.