Rupiah masih berkisar di posisi Rp 9.432,5 per dolar AS. Rupiah belum bisa mengikuti jejak lantai bursa karena tidak ada sentimen segar yang bisa mengangkat rupiah untuk melawan tingginya harga minyak.
Pasar saham mengalami rebound setelah dua hari berturut-turut tertekan sentimen inflasi dan harga minyak. Sebaliknya rupiah masih saja ringkih dilevel 9.400-an/US$.
Rupiah menggigil di level 9.400-an per dolar AS. Tidak ada sentimen positif yang bisa menghangatkan rupiah sehingga membuat mata uang lokal ini kedinginan. Harga minyak yang tinggi yang sempat di atas US$ 100 per barel membuat ekonomi global ketar-ketir dan menjadi sentimen negatif pergerakan rupiah. Meski punya kesempatan menguat karena dolar sedang melemah terhadap euro tetap saja rupiah tidak berkutik.
BI harus segera bertindak mengintervensi pasar karena posisi rupiah saat ini kian melemah terhadap dolar AS. Rupiah kini menembus level 9.045-9.415 per dolar AS karena sentimen negatif tingginya harga minyak.
Harga minyak yang mulai merambat ke USD 100 per barel kembali menonjok rupiah. Rupiah anjlok di level 9.400-an dolar AS. Tingginya harga minyak akan membuat ongkos impor minyak terutama oleh Pertamina meningkat sehingga memicu kebutuhan dolar AS yang lebih tinggi.
Tumbangnya IHSG berdampak pada turunnya nilai rupiah terhadap dolar AS dibanding dengan pembukaan pagi tadi. Pada perdagangan valas pukul 16.10 WIB, Rabu (02/01/2008), rupiah ditutup melemah ke level 9.395 per dolar AS, dibandingkan pembukaan sebelumnya Rabu pagi (28/12/2007) rupiah berada di level 9.369 per dolar AS.
Rupiah melangkah optimis di awal 2008. Pasar modal yang memiliki kinerja baik di tahun 2007 akan membuat investor kembali terpanggil yang berimbas pada nilai rupiah.