Ratusan tahun mereka tinggal di hutan ini, hutan tetap lebat, hijau, lengkap dengan satwa langka yang biasa lalu lalang di dalamnya. Jika saja semua bijak terhadap alam sebagaimana Suku Korowai, tentulah alam Indonesia ini akan semakin hijau dan tidak ada lagi polusi dan limbah.
Ratusan tahun mereka tinggal di hutan ini, hutan tetap lebat, hijau, lengkap dengan satwa langka yang biasa lalu lalang di dalamnya. Jika saja semua bijak terhadap alam sebagaimana Suku Korowai, tentulah alam Indonesia ini akan semakin hijau dan tidak ada lagi polusi dan limbah.
Kalau hujan seperti sekarang ini, santapan yang paling pas adalah yang berkuah atau yang sedikit pedas. Salah satunya dengan teri Sibolga ini. Irisan cabai rawit nya pedas menggigit dengan gurih garing si teri, cocok disantap dengan nasi putih hangat mengepul. Hmm..sedap!
Sayur ini terbilang unik, rasanya pedas menggigit cocok sekali buat mereka yang memang penggila rasa pedas. Sangat pas dinikmati untuk makan siang ataupun malam, dengan udara Lembang yang dingin. Huah..huah!
Beberapa hari yang lalu, seorang bertanya kepada saya di Twitter. Ayam goreng apa yang menjadi favorit saya? Saya menjawab secara sambil lalu. Tetapi, segera setelah saya menjawabnya, saya mulai sadar bahwa soal ayam goreng bukanlah perkara sepele.
Ratusan tahun mereka tinggal di hutan ini, hutan tetap lebat, hijau, lengkap dengan satwa langka yang biasa lalu lalang di dalamnya. Jika saja semua bijak terhadap alam sebagaimana Suku Korowai, tentulah alam Indonesia ini akan semakin hijau dan tidak ada lagi polusi dan limbah.
Ayam Tangkap, adalah ayam yang dipotong kecil-kecil (sebesar ibu jari) kemudian digoreng kering, kemudian disajikan dengan daun temburu dan cabe hijau yang juga digoreng kering.
Rumah makan ini bersebelahan dengan RM Daun Pisang. Setelah mereka pecah kongsi, RM Pohon Pisang berdiri sendiri dan malah ruangannya lebih besar. Kedua rumah makan ini juga punya menu andalan yang sama, yaitu bibir ikan dimasak gulai atau kari asam.