Pemerintah diminta untuk aktif segera memulang warga negara Indonesia yang ada di Suriah. Sebab gejolak politik yang ada di dalam negeri itu belum juga reda hingga saat ini.
Aksi kekerasan tentara pemerintah terhadap warga sipil di Suriah masih saja terjadi. Bahkan tentara Suriah dituding melakukan pencabulan terhadap tahanan yang menentang rezim Presiden Bashar al-Assad.
Konflik berkepanjangan di Suriah terus merenggut nyawa. Setidaknya 52 orang tewas dalam berbagai baku tembak dan pengeboman di sejumlah wilayah Suriah dalam sehari kemarin.
Pemerintah mempercepat proses evakuasi tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja sebagai penata laksana rumah tangga (PLRT) yang berada di wilayah konflik Suriah. Evakuasi diprioritaskan pada daerah rawan konflik yang membahayakan keselamatan TKI.
Konflik di Suriah belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Lebih dari 14 ribu orang telah tewas di Suriah selama 15 bulan revolusi melawan rezim Presiden Bashar al-Assad.
Semua mata tertuju pada Suriah. Amnesty International pun menyerukan adanya respons internasional terhadap Suriah yang menurutnya tengah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Suriah sedang dilanda perang saudara yang menelan banyak korban jiwa. Oleh karena itu tidak sedikit tenaga kerja asal Indonesia yang meminta dipulangkan oleh majikannya.
Migrant Care melalui 20 posko pengaduan TKI di Suriah sudah menerima sebanyak 14 pengaduan. Sepuluh pengaduan di antaranya sudah disampaikan ke pihak Kementerian Luar Negeri.
Situasi di Suriah kian memburuk. Pemerintah China pun sangat prihatin akan memburuknya situasi di negeri itu yang disebutnya telah mencapai titik kritis.