Antara Banda Aceh, Takengon, dan Bireuen, kini terbentang ruas jalan beraspal yang panjang dan melelahkan saat ditempuh, meski menumpang mobil yang bagus. Pemandangan yang dominan adalah pegunungan dan belantara lebat.
Bila nanti Kabupaten Bireuen, Aceh, mempunyai Taman Makam Pahlawan, barangkali dua makam berdampingan di tempat sunyi itu akan menjadi cikal bakalnya. Kedua makam tersebut berisi jasad tokoh yang amat penting dalam sejarah perjuangan Aceh dan Indonesia.
Bicara apa saja jasa radio Rimba Raya, tak bisa dimungkiri radio itu tak ternilai harganya. Bermacam taktik disiasati para pejuang kemerdekaan di Bumi Serambi Mekah agar stasiun radio ini bisa menjadi salah satu pintu gerbang Indonesia di mata internasional.
"Sekali merdeka, tetap merdeka...!" Hampir 65 tahun silam, pekik pengobar semangat itu diucapkan berkali-kali oleh penyiar radio Rimba Raya. Dinamai demikian karena radio tersebut menyiarkan informasi dari tengah hutan belantara Aceh.
Jangan salah memahami judul di atas. Bukan, kami bukan membicarakan konflik bersenjata yang pernah terjadi di provinsi tersebut. Kami justru sedang membicarakan sebuah fakta sejarah yang pernah terjadi di Aceh. Sejarah yang kini agak terlupakan.
Ini kisah tentang radio perjuangan yang dirintis Divisi X Komandemen Sumatera Utara Langkat dan Tanah Karo. Radio ini kelak dikenal dalam sejarah dengan nama Radio Rimba Raya. Radio ini berjasa sebagai corong Republik untuk menangkal propaganda sesat Belanda. Termasuk, yang fenomenal, menyiarkan serangan besar selama enam jam di Yogyakarta pada 1 Maret 1949.
Bagaimana Radio Rimba Raya mengabarkan Republik Indonesia masih ada? Ikuti penelusuran Harian Detik yang mereportase radio ini sampai ke belantara pedalaman Aceh. Edisi Khusus Serangan Umum 1 Maret ini kami terbitkan selama dua hari secara berseri, pada 28 Februari 2013 dan 1 Maret 2013.
Bagaimana Radio Rimba Raya mengabarkan Republik Indonesia masih ada? Ikuti penelusuran Harian Detik yang mereportase radio ini sampai ke belantara pedalaman Aceh. Edisi Khusus Serangan Umum 1 Maret ini kami terbitkan selama dua hari secara berseri, pada 28 Februari 2013 dan 1 Maret 2013.