Libya merupakan negara dengan GDP per kapita tertinggi di Afrika. Kesejahteraan sebagian besar rakyat tidak menjamin ketiadaan protes pada pemerintah, apalagi yang tidak peduli kemauan rakyat.
Pejabat Libya telah banyak yang mengundurkan diri. DK PBB telah menjatuhkan sanksi. Tapi Khadafi tidak peduli. Ia yakin kekuatan yang dimilikinya tidak akan terkalahkan.
Imbas revolusi di Tunisia dan Mesir berimbas ke Bahrain. Amerika Serikat (AS) meminta Bahrain menahan diri dalam menggunakan kekuatan militer untuk menangani aksi unjuk rasa menentang pemerintah.
Setelah Tunisia, kini Mesir yang bergejolak. Rakyat di sana sudah muak dengan pemerintahan sekuler yang menyengsarakan rakyat. Dari revolusi Tunisia tampaknya menjalar cepat ke sejumlah negara Arab.
Militer Mesir pendukung pemerintahan Presiden Hosni Mubarak berjanji tidak akan lagi menggunakan kekerasan untuk menghadapi demonstran. Setiap warga negara dijamin kebebasan berekspresinya dengan cara-cara damai.