Seluruh fraksi dan kelompok DPD telah menyampaikan usulan paket calon pimpinan MPR. Sidang paripurna MPR pun memasuki tahap pemilihan paket calon pimpinan melalui voting. Sebelum tahapan itu dilakukan, pimpinan MPR mengingatkan anggota dilarang membawa alat komunikasi saat ke bilik suara.
Sidang paripurna pemilihan pimpinan MPR kembali dimulai dan setiap fraksi mulai membacakan paket calon pimpinan MPR RI. Kubu Koalisi Merah Putih (KMP) megubah strategi dengan mengajukan Zulkifli Hasan dari PAN sebagai calon Ketua MPR dan menerima Oesman Sapta Odang dari DPD sebagai calon Wakil Ketua MPR RI.
Ketua Umum PPP Suryadharma Ali sempat membawa kabar bahwa PKS telah mengalah dengan mengembalikan kursi pimpinan MPR ke PPP. Namun kabar itu rupanya tak menghalangi PPP bergabung ke Koalisi Indonesia Hebat. Apa kata PKS soal keputusan PPP ini?
PPP mengancam loncat ke koalisi Indonesia Hebat setelah hampir tak mendapat jatah di pimpinan MPR. Namun, hal itu dipastikan tidak akan terjadi di Jakarta.
PPP membantah telah melanggar kesepakatan dengan anggota Koalisi Merah Putih. Partai berlambang Kakbah itu justru menuding PKS tak mau mengambalikan hak kursi pimpinan MPR ke PPP. Seperti apa ceritanya?
Ketum Golkar Aburizal Bakrie memberikan 6 arahan untuk memenangkan kursi pimpinan MPR dengan cara mengubah tatib MPR soal DPD. Hanura pun berpesan agar Koalisi Merah Putih (KMP) tidak mengintervensi DPD.
Koalisi Merah Putih (KMP) melalui Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie memberi arahan soal strategi memenangkan kursi pimpinan MPR. Salah satunya mengubah tatib soal DPD sebagai unsur MPR dan mengajukan nama selain Oesman Sapta.
Untuk melengkapi paket KMP lainnya, yang harus menyertakan unsur DPD, PKS meminta nama lain selain Oesman Sapta Odang yang telah resmi diusung oleh DPD.
Koalisi Merah Putih (KMP) sepertinya telah membuat antisipasi terpilihnya Oesman Sapta Odang sebagai calon pimpinan MPR dari DPD. Ketum Golkar Aburizal Bakrie sudah menyiapkan arahan untuk memenangkan KMP di pemilihan pimpinan MPR.