Berita penganiayaan para TKI di Arab Saudi seakan menjadi makanan sehari-hari. Belum tuntas satu masalah, timbul lagi masalah lain yang lebih pelik. Masihkah pengiriman TKI ke negeri para nabi ini dilanjutkan?
Serangkaian kekerasan yang menimpa para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi terus mendapatkan kecaman. Hari ini, 3 aksi unjuk rasa berlangsung di kantor Kedubes Arab Saudi yang terletak di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur.
Menakertrans Muhaimin Iskandar menilai kematian Kikim Komalasari cukup misterius. Sebab, 6 bulan sebelumnya, Kikim justru merasa perlakuan majikannya sangat baik.
Dalam sepekan ini setidaknya ada tiga kisah pilu buruh migran di Arab Saudi yang terungkap. Daripada tidak dihormati, lebih baik TKI di Saudi dipulangkan saja.
Rieke 'Oneng' Pitaloka meminta pemerintah seharusnya malu karena tidak bisa menyediakan lapangan kerja di dalam negeri. Hasilnya, ribuan warga Indonesia bermigrasi ke Arab Saudi untuk mengadu nasib sebagai pembantu dan pekerja kasar yang lain.
Puluhan aktivis buruh migran menggeruduk Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi. Mereka menuding kerajaan tersebut sebagai pelaku kejahatan kemanusiaan karena membiarkan warganya menyiksa dan membunuh TKI yang bekerja di Arab.
Ulah majikan TKW Sumiati yang tega melakukan kekerasan mendapat reaksi keras di Tanah Air. Kedubes Arab Saudi pun menjadi sasaran protes pengunjuk rasa. Demonstran melempari Kedubes dengan pembalut wanita.
Malang benar Sumiati. Keinginannya mengadu nasib di Arab Saudi berbuntut pada penganiayaan dirinya. Terkait soal ini, Dubes Arab Saudi untuk RI akan memberi penjelasan.
Jumlah jamaah haji nonkuota atau yang disebut sebagai jamaah haji 'sandal jepit' tahun 2010 ini turun drastis dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini tercatat jumlah jamaah sandal jepit hanya 350 orang.