Di awal era 2000an, saat dunia dilanda demam Fred Dust dan Limp Bizkit-nya, Indonesia juga demikian. Wabah rap rock atau dikenal juga dengan nama nu metal itu menjamah lewat grup bernama 7Kurcaci. Namun sayang, mereka harus terjun bebas dari industri musik saat itu.
Teater Broadway di New York City, AS namanya sudah mendunia. Kualitas akting pemain, tata panggung dan plot cerita sungguh berkualitas tinggi. Wisatawan harus keluar uang banyak demi menonton teater ini.
New York dan Broadway adalah dua hal yang tak terpisahkan. Berkunjung ke New York tanpa mampir ke kawasan Broadway rasanya seperti ada yang kurang. Mengapa orang-orang begitu penasaran dengan Teater Broadway --begitu kawasan itu kemudian dikenal? Apa rahasianya?
Limp Bizkit akan merilis album baru Stampede of The Disco Elephants pada tahun ini. Terkait album barunya itu, mereka akan meluncurkan single “Endless Slaughter” hanya dalam bentuk kaset.
Ada-ada saja cara Fred Durst Cs untuk kembali eksis. Saat semua industri rekaman berlomba-lomba menggarap bentuk digital tercanggih dari penjualan sebuah karya lagu, Limp Bizkit justru memundurkan langkahnya. Mereka berencana merilis single terbarunya dalam format kaset.
Selain panggung-panggung kampus, band ini, mulai terdengar namanya di acara-acara indie pada saat itu. Mereka sudah mulai membawakan lagu-lagu karya sendiri, namun hanya diperdengarkan saat berada di panggung saja.
Indonesia tak sekadar pengimpor musik keras berbaur hentakan irama rap itu. Ternyata label-label besar seperti Musica Records, Sony juga Nagaswara ikut melirik tren ini. Bahkan sejumlah band lokal indie pun ikut diangkat untuk bekerja sama dengan mereka.