Sup khas Banten ini unik rasanya, mirip dengan semur daging Betawi. Kuahnya kecokelatan dengan rasa manis pedas yang cukup nendang! Isinya perpaduan antara daging kambing dan sapi yang empuk. Penasaran dengan hidangan para Sultan Banten ini? Cobain yuk!
Pada saat makan siang, Warung Sekar Taji selalu dipenuhi para karyawan dari berbagai kantor di sekitarnya. Apalagi setelah shalat Jumat, karena tempatnya tidak jauh dari sebuah masjid. Padahal, di sekitarnya ada banyak pilihan lain.
Restoran yang satu ini cocok buat mereka yang berlidah Jawa. Ada pindang kudus yang disajikan mengepul panas dalam wadah daun pisang, nasi udang, atau nasi langgi. Semuanya disajikan bertabur serundeng yang manis-manis gurih. Nyam nyam... enak tenan!
Terjebak kemacetan di Jakarta? Tidak dapat tiba di Bogor pada waktunya untuk berbuka puasa? Jangan khawatir. Ada Cibubur Square, sebuah pitstop baru di sisi Jagorawi lintasan Jakarta-Bogor.
Terjebak kemacetan di Jakarta? Tidak dapat tiba di Bogor pada waktunya untuk berbuka puasa? Jangan khawatir. Menepi dulu di sini, dan kita tunaikan kewajiban untuk berbuka puasa dan ibadah shalat Magrib.
Pindang versi Jawa Tengah ini disajikan dalam mangkuk keramik mungil. Kuahnya kecokelatan gurih hangat. Suwiran ayam kampung yang empuk dan daun melinjo muda yang renyah membuat sajian khas ini makin sedap. Enak dihirup panas saat udara dingin bertiup!
Nasi gandul adalah sajian khas Pati, Jawa Tengah. Dilihat sepintas, ia sangat mirip dengan nasi pindang dari Kudus, tetapi tanpa daun so (daun melinjo muda). Tetapi mengapa penganan ini disebut nasi gandul?
Melihat tampilannya dan mencicipi citarasanya secara sekilas, kita dapat berkesimpulan cepat bahwa sajian ini adalah persilangan antara rawon dan soto. Tetapi, sesungguhnya, nasi pindang adalah sajian yang sangat unik.