Demo sekitar 350-an mahasiswa di depan Gerbang DPR tidak mengantongi izin polisi. Namun, pihak mahasiswa berjanji akan mencegah tindakan anarkis dalam aksinya.
Aksi demo pekerja PTPN X mendapat respons Komisi VI DPR. Untuk mencarikan solusi atas persoalan ini, Komisi VI akan melanjutkan kasus tersebut dibahas di Panitia Kerja.
Aksi mahasiswa saat ini dinilai tidak bermutu. Dalam aksinya, mahasiswa tidak terlihat sebagai intelektual, tapi malah bertindak destruktif dan merugikan masyarakat.
Coba bayangkan demonstrasi seperti ini: bisu dan hening. Tak ada pengeras suara. Tak ada teriakan tuntutan. Yang ada hanya bentangan spanduk berisi protes mereka.
Setelah puas dihampiri anggota DPR Effendy Choirie dan Zubair Syafawi akhirnya ratusan buruh dari SPN luluh. Mereka membubarkan diri secara damai dengan berkonvoi motor.
Dengan pengeras suara, anggota DPR Effendy Choirie dan Zubair Syafawi berorasi menolak kenaikan BBM di tengah-tengah demo yang diikuti sekitar 300 buruh di depan Gedung DPR.
Unjuk rasa kembali mewarnai DKI Jakarta. Jika beberapa hari lalu demo banyak dilakukan oleh mahasiswa, aksi Kamis (29/5/2008) akan lebih lebih berwarna.
Unjuk rasa mahasiswa sekarang ini, kerap dibarengi penutupan jalan, pembakaran ban bahkan pemukulan. Berbeda saat aksi 1998 yang mendapat simpati rakyat.