Orang Minang tidak hanya mampu membaca yang tasurek (tersurat), tapi juga yang tasirek (tersirat). Melihat yang nyata di depan dan tersembunyi di belakang.
Sebagai produk kreativitas, gudeg terlampau sulit dicomot untuk menambahkan keragaman mie: rasa soto, rasa rendang, rasa sate. Belum ada mie rasa gudeg.