Melihat upacara bakar batu di Desa Obiah membawa saya mundur ke masa lampau. Ternyata, di zaman Facebook ini, masih ada praktik kebudayaan purba yang setia dijaga.
Menyusuri teluk, laut, muara dan sungai-sungai yang besar dan lebar serta panorama indah sepanjang perjalanan seperti melihat "surga kecil yang jatuh ke bumi" - potongan syair lagu Papua oleh Edo Kondologit.
Senggo, sebuah desa di pinggiran sungai Daerum. Disitulah saya, Harley dan Bang Leo kami menginap sebelum berpetualang ke pedalaman Suku Korowai di Basman. Sebuah desa di Distrik Citak Mitak Kab. Mappi yang jaraknya kurang lebih enam jam dengan speed boat dari Agats. Melewati Teluk Flamingo di Laut Aru dan sungai-sungai besar di Papua menjadikan perjalanan ini sebuah petualangan yang seru.
Seiring perkembangan zaman, apa iya kampung-kampung di Baduy Dalam tetap bisa kukuh dan tegas menjaga kemurnian aturan adat mereka? Kalau saya, kurang yakin. Kenapa? Unsur modern sudah mendesak masuk, menurut saya. Salah satunya melalui Pak Ahmadi.
PT Freeport Indonesia mengembangkan penelitian tanaman sagu di lokasi lahan pasir sisa tambang seluas 2 hektar di Kali Kopi Mimika dan 0,25 hektar di lokasi lainnya.
Kami bertemu dengan sejumlah turis asing di Cubadak Paradiso Village, resor tenang di sebuah pulau kecil di Pesisir Selatan. Kami mengobrol soal pariwisata Indonesia yang menurutnya lengkap dan menarik. Sayangnya, kebijakan fiskal turis di Indonesia dinilainya menghambat pariwisata itu sendiri. Kenapa?
Untuk yang suka dengan olahan daging kambing, pasti menyukai sate yang menjadi andalan rumah makan ini. Dagingnya empuk dan gurih, dipadu dengan bumbu yang enak. Jika ingin yang segar, sop kambing pun bisa dicicipi. Sluurp, enak!
Sibolga merupakan pelabuhan yang berpotensi sebagai penghubung di wilayah pantai barat Sumatera, kawasan ini bisa dijadikan transit baik bagi turis lokal maupun manca negara, untuk menikmati wisata bahari di P. Nias ataupun pulau - pulau di sekitarnya.