Semakin aneh saja sikap anggota perlemen di negeri ini. Kini, mereka yang duduk di gedung rakyat itu, membuat ulah baru yang ironinya berulang selalu tiap tahunnya.
Ketidakefektifan presidensialisme bukan terletak pada penerapan sistem multipartai yang ditopang sistem pemilu proporsional, tetapi pada dukungan parlemen. Tapi partai pendukung SBY-Boediono adalah koalisi semua, sehingga presiden sibuk menjaga keutuhan mereka.
Briptu Norman mendadak jadi perbincangan publik setelah video lipsync-nya beredar di youtube. Norman memang bukan yang pertama terkenal karena aksi seperti ini. Momen yang pas membuat Norman populer.
Komisi Nobel makin menuai kritik dengan keputusan presiden Obama memerintahkan serangan udara besar-besaran di Libya yang sebelumnya kritik diajukan kepada Komisi Nobel dua bulan pasca pemberian hadiah Nobel Perdamaian tahun 2009.
Sejumlah negara terus menentang intervensi militer di Libya. Menurut Jerman, krisis Libya tak akan bisa diselesaikan secara militer. Hanya solusi politik yang bisa menyelesaikannya.
Badai demokrasi telah melanda sekaligus mengubah wajah dunia Arab. Pun kini Libya yang tak jua berhenti bergolak. Setelah diamuk pemberontak pro demokrasi, Khadafi harus menghadapi pasukan sekutu.
Badai demokrasi benar-benar telah melanda sekaligus mengubah wajah dunia Arab. Dari artikuasi di mimbar-mimbar demonstrasi, hingga bermetamorfosa menjadi bahasa moncong-moncong senjata.