Bambang Brodjonegoro menjelaskan, ketika negara maju menerapkan suku bunga rendah atau negatif, maka investor mencari negara lain untuk penempatan dana.
Dalam waktu dekat, bukan mustahil dolar AS akan menuju level Rp 12.000 atau lebih. Bila melihat tren pergerakan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.