Buat yang sedang mudik atau mampir ke kota kembang rasanya tak salah jika mampir ke warung nasi Ibu Imas. Warung masakan Sunda ini memang tak pernah sepi pengunjung. Andalannya berupa ayam bakar, aneka pepes plusĀ sambal leunca khas Bandung ini hmm.. raos pisan!
Sejak dini lingkungan membekalinya pengalaman kuliner yang praktis. Bekerja keras membuatnya mantap dengan panggilan jiwa sebagai seorang chef. Makanan tradisional pun jadi salah satu keahlian chef yang murah senyum ini!
Kalau di Indonesia ada musik patrol untuk membangungkan sahur, di Hadhramaut dilakukan dengan membaca kalam salaf diiiringi dengan bunyi yang hampir mirip dengan suara seruling. Mirip dengan alunan tembang Jawa peninggalan Wali Songo.
Di Maroko, negara Islam bermadzhab Maliki, di negara bagian Afrika Utara berkulit putih, saat malam hari Ramadan, jamuan makan terbagi menjadi empat 'tahap.' Ini menjadi tradisi di setiap keluarga.
Racikan nasi sederhana khas kota udang ini memiliki daya tarik tersendiri. Nasi yang diracik langsung saat dipesan memiliki citarasa yang cukup unik. Rasanya gurih-gurih dengan semburat rasa pedas lamat-lamat. Coba saja!
Fahmi Idris tampaknya merasa yakin tidak akan terpilih lagi sebagai menteri. Ia pun mengucapkan salam perpisahan. Tak lupa, Fahmi Idris juga bernostalgia soal masakan padang favoritnya ketika masih anak-anak.
Chef yang senang dengan tantangan baru ini meniti karirnya dengan tekun dari bawah. Kesuksesan justru memicunya untuk terus berkreasi dan mengembangkan diri. Juga dalam mewujudkan impian membawa makanan Indonesia 'go international'.
Di rumah makan ibu haji Aminah ini, semua yang dimasak disajikan di meja. Ikan mas goreng terasa gurih dengan aroma bawang. Ayam gorengnya juga empuk dengan aksen gurih bawang. Dicocol sambal dadak yang kasar dan garang, rasanya jadi luar biasa dahsyat!