IHSG dan nilai tukar rupiah terus bergerak menguat. Hal itu dipicu oleh aliran modal yang tetap kuat didukung oleh sentimen positif, meski sempat ternoda oleh ledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada Jumat, 17 Juli lalu.
IHSG menutup perdagangan awal pekan ini dengan pelemahan tipis dengan volume transaksi yang tidak terlalu besar. Investor memilih wait and see menunggu pengumuman inflasi dari BPS pada 1 Juli.
Spekulasi The Fed, pelemahan dolar AS dan harga komoditas menjadi faktor penentu pergerakan saham dunia. Sementara di tingkat regional, pasar saham mencoba bangkit. Berikut rekomendasi eTrading.
Krisis global telah menyeret dampak ke semua negara, tak terkecuali Indonesia meski pada skala yang berbeda-beda. Indikasi krisis global sebenarnya sudah bisa diendus sejak tahun 2007. Berikut kronologi dan latar belakang krisis.
IHSG diprediksi sudah mulai akan bergerak variatif setelah terus menerus mengalami tekanan karena sentimen eksternal. Bursa regional masih akan menjadi acuan.
Rakyat AS bersiap menutup lembaran kepemimpinan Presiden George W Bush. Dalam pidato perpisahannya, Bush menegaskan bahwa dirinya telah membuat negara AS aman.
Turunnya harga minyak dunia yang kini di level US$ 35 per barel akan memberikan tekanan terhadap saham energi di BEI. Aksi jual membayangi saham tambang yang bisa membuat IHSG kembali merah.
BI mengeluarkan aturan baru tentang Transaksi Pembelian Wesel Ekspor Berjangka (WEB) oleh Bank Indonesia. Aturan itu bisa mempercepat cairnya dana milik para eksportir.