Investasi mendirikan SPBG cukup mahal, sayangnya minimnya kendaraan yang membeli BBG. Akhirnya banyak SPBG yang terpaksa tutup karena tidak bisa balik modal.
Perusahaan Gas Negara (PGN) menyarankan perusahaan-perusahaan termasuk pemerintah daerah beralih ke bahan bakar gas (BBG), daripada harus membeli BBM non subsidi.
Pemerintah pusat sudah pernah mengeluarkan 17 jurus untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Setelah empat tahun berlalu, apakah program itu berjalan mulus?
Kebijakan konversi dari BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) belum ada hasil yang signifikan. Pemerintah mengaku telatnya pembangunan infrastruktur jadi penghambat.
Kelamnya masa depan gas alam Indonesia dipicu oleh tidak adanya strategi penggunaan gas sebagai energi primer pengganti minyak bumi yang semakin langka dan mahal. Belum lagi tingginya semangat Pemerintah untuk terus memberikan subsidi BBM dan LPG 3 kg sebesar-besarnya, memperburuk nasib bangsa ini ke depan.
Sejumlah ide untuk ketahanan energi muncul. Mulai pemanfaatan biodiesel hingga konversi BBM ke BBG. Tapi itu tidak berjalan, karena subsidi BBM terlalu besar.
Investor masih enggan membangun stasiun penjualan bahan bakar gas (SPBG) karena harga BBG masih sangat murah yaitu Rp 3.100 per liter setara premium (lsp).
Sebelumnya para peternak sapi di Propinsi Leeuwarden, NL merasa keberatan dengan program Pemerintah Kota (municipality) untuk pengembangan sustainable energy melalui pemanfaatan energi matahari di rumah-rumah.