Bandara Wamena menjadi perhatian menyusul pemukulan petugas oleh pejabat setempat. Bandara Wamena memang tak bisa disamakan dengan bandara lain. Kondisi alam dan masyarakat mempengaruhi operasional bandara yang unik ini.
Aksi brutal sejumlah calon penumpang terhadap Kepala Bandara Wamena Jufikar Pakonda dan staf ATC Edi Horas menimbulkan efek psikologis bagi karyawan lain. Mereka sempat ketakutan dan tak ingin bekerja.
Akibat dipukuli, Kepala Bandara Wamena Jufikar Pakonda mengalami luka memar di wajah. Sedangkan Staf ATC Edi Horas menderita luka cukup serius di bagian pinggul.
Kepala Bandara Wamena Jufikar Pakonda dan staf ATC Edi Horas dipukuli rombongan calon penumpang yang berisi pejabat daerah Papua. Mereka tak terima ketika pesawatnya dilarang terbang.
Kepala Bandara Wamena Jufikar Pakondo dan staf ATC Edi Horas dipukuli karena tak memberi izin pesawat yang hendak terbang di luar jam operasional bandara. Insiden ini sangat disayangkan.
Kepala Bandara Wamena Jufikar Pakonda dan staf ATC Edi Horas dipukuli sejumlah calon penumpang di Bandara Wamena. Mereka jadi sasaran amukan karena tak memberi izin terbang demi keselamatan.
Sebagian besar pecinta sepakbola di tanah air pasti sudah frustrasi melihat kekacauan sepakbola dalam negeri sepanjang dua tahun terakhir ini. Ribut dari hari ke hari tanpa henti ....
"Saya bangga anak saya ikut jaga negara ini. Saya juga bela negara ini,"kata Yali Mabel, kepala suku Dani, Wamena, Papua, yang putranya baru saja dilantik sebagai sebagai perwira remaja Polri.
Ada anekdot, kompetisi sepakbola di Indonesia adalah salah satu yang paling "ajaib" di dunia. Salah satunya adalah fenomena pertandingan berstatus Walk Over alias WO, yang konsekuensinya sering tak jelas.