Komunitas pengguna kereta atau KRL Mania meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) serius memperbaiki pelayanan kereta. Contoh kecil saja, soal pelayanan kereta commuter line bertarif Rp 8.000-9.000 di peak hours.
Selain perubahan jadwal, PT Kereta Api Indonesia mulai hari ini juga menambah jumlah perjalanan kereta commuter Line dari 67 perjalanan menjadi 93 perjalanan untuk rute Jabodetabek. Penambahan ini membuat penumpang kereta di Stasiun Kota merasa senang karena sangat terbantu.
Permintaan DJKA dan Menko Perekonomian untuk menunda penghapusan KRLJ Ekonomi non AC, menurut saya asal bunyi (asbun) dan melanggar UU 23 tahun 2007. Apa yang harus ditunda karena memang tidak ada yang akan menghapuskan KRLJ Ekonomi non AC per 1 April 2013.
KRL Ekonomi Jabodetabek akan mulai ditarik gerbongnya per Juni 2013 dan diganti gerbong ber-AC serta tarif tunggal Rp 8 ribu-Rp 9 ribu. Bagi penumpang tak mampu akan mendapatkan subsidi. PT KAI akan menyebar formulir pada penumpang untuk menentukan besaran subsidi.
KRL Ekonomi yang akan ditarik gerbongnya per awal April 2013 diundur hingga Juni 2013. Penundaan penarikan gerbong ini lantaran menunggu sistem elektronik tiket berfungsi pada akhir April 2013.
PT KAI akan menarik gerbong KRL Ekonomi lawas karena dinilai sudah tak layak beroperasi. Penetapan tarif tunggal seperti Commuter Line menimbulkan gejolak. Ada 2 solusi yang ditawarkan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Apa saja?
Rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghapus KRL ekonomi mendapat penolakan dari penggunanya. Penumpang lebih setuju bila tarif KRL ekonomi dinaikkan.