Melihat upacara bakar batu di Desa Obiah membawa saya mundur ke masa lampau. Ternyata, di zaman Facebook ini, masih ada praktik kebudayaan purba yang setia dijaga.
Batuknya Merapi (erupsi kecil-red) yang terjadi sore ini tepat pukul 16.10 WIB ternyata disertai luncuran awan panas. Selain itu, Merapi juga menyebabkan hujan abu di 3 desa di Magelang.
Tayangan siaran langsung di televisi mengenai proses evakuasi warga lereng Gunung Merapi, jadi hiburan tersendiri bagi pengungsi. Tiap melihat kelebat tetangga dan kerabatnya, mereka mengucap syukur.
Kekecewaan demi kekecewaan kami terhadap kondisi Desa Kayeli sebelumnya cukup terbayar dengan kemegahan panorama yang melatarbelakangi Desa dan Teluk Kayeli tersebut. Gunung yang tidak terlalu tinggi didampingi dengan bukit-bukit yang berbaris rapi menaungi desa. Kabut tipis menyelimuti puncak gunung tersebut sehingga menambah kesan sejuk dan damai.
Berangkat ke Setu Babakan dengan perasaan excited karena perjalanan kali ini kami akan menjauhi Jakarta untuk sementara waktu. Lalu melihat perkebunan teh dan menunggangi kuda di areal pabrik teh Gunung Mas.
Tidak ada aktivitas mencolok di kediaman mendiang Soeharto di Cendana, Jakarta Pusat, menjelang 1.000 hari wafatnya mantan presiden Indonesia itu. Peringatan 1.000 hari wafatnya Soeharto di Jakarta dipusatkan di Masjid At-Tin.
Wahau memang daerah mengagumkan. Budayanya, keramahan orang-orangnya, bang Kris, booq Knyok, dan Hutan Lindung Sungai Wehea membuat saya ingin kembali lagi kesana suatu saat nanti ..