Sejatinya, kejahatan penyalahgunaan narkoba di Indonesia tidaklah berdiri sendiri. Ia sangat terkait erat dengan sindikat internasional. Hal itu bisa dilihat dari jumlah tersangka yang sudah divonis mati di negeri ini. Mayoritas merupakan WNA.
Bocornya program PRISM oleh Edward Snowden dan pengembangan Wikileaks oleh Julian Assange membuktikan bahwa pengawasan dapat diarahkan kepada warga negara yang baik-baik.
Wakil Jaksa Agung Darmono menjadi pembicara pertemuan ke-5 International Association of Anti-Corruption Authorities (IAACA). Selain Darmono, hadir juga Wakil Ketua KPK Zulkarnain.
"Saya melihat masyarakat kurang bisa membedakan, mana saudara-saudara kita yang tergolong sebagai korban, dan siapa-siapa yang boleh dikatakan sebagai penjahat bidang narkoba ini," ujar Presiden SBY.
Laporan terbaru yang dirilis Depdagri AS menyebutkan pejabat pemerintah Papua Nugini turut memfasilitasi perdagangan manusia di negaranya lewat suap dan perdagangan korban untuk kepentingan politik.
Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat) menilai hampir semua desa di Indonesia tak ada yang bersih dari peredaran narkoba. Granat pun meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dan adil. Kalau perlu, bandar dan produsen sabu dihukum mati.
Setiap tahun ada sekitar 556 juta korban kejahatan cyber, atau kurang lebih ada 18 korban setiap detiknya. Pengguna smartphone yang terus meningkat pun menjadi sasaran baru penjahat cyber.