Entah apa yang membuat dua orang warga adat Suku terasing di Pulau Buru mengamuk tanpa alasan. Akibatnya satu siswa sekolah dan satu anggota DPRD luka terkena serangan senjata tajam.
Dapat berwisata ke Indonesia bagian timur tanpa biaya sepeser pun serta mengemban misi untuk mempromosikan negeri sendiri merupakan hal yang sangat istimewa bagi kami. Rasa syukur terus kami panjatkan karena telah diberi kesempatan untuk menjelajahi Maluku dengan segala keragaman budaya, keunikan adat istiadat dan juga keindahan alamnya.
Lalu saya menanyakan si ibu sedang memungut apa di pasir pantai seperti yang saya lihat tadi. Ia menjawab bahwa sedang mengumpulkan kerang-kerang pantai. Kerang-kerang tersebut akan dijualnya.
Setelah melakukan riset kecil-kecilan dan berbekal tanya-tanya dengan penduduk setempat, muncul suatu wacana untuk melakukan kunjungan singkat ke seberang Kota Namlea, tepatnya di Desa Kayeli. Di sana terdapat sebuah situs bersejarah, yakni Benteng VOC yang dahulu digunakan sebagai kantor pemerintahan propinsi Ambon.
Kekecewaan demi kekecewaan kami terhadap kondisi Desa Kayeli sebelumnya cukup terbayar dengan kemegahan panorama yang melatarbelakangi Desa dan Teluk Kayeli tersebut. Gunung yang tidak terlalu tinggi didampingi dengan bukit-bukit yang berbaris rapi menaungi desa. Kabut tipis menyelimuti puncak gunung tersebut sehingga menambah kesan sejuk dan damai.
Beberapa meter dari gerbang, terdapat taman kecil yang sangat asri dan terawat di mana patung Martha Christina Tijahahu berdiri kokoh di bagian puncak taman. Patung tersebut menghadap ke arah Kota Ambon dan pelabuhan seakan bersiaga untuk menjaganya.