Orang rela mengeluarkan uang Rp 3 juta sampai Rp 11 juta untuk memiliki lebih dari satu unit di rusunawa Marunda. Angka itu jelas tak seberapa jika dibandingkan dengan keuntungan yang akan didapat.
Sayang media hanya menyorot soal banyaknya mobil mewah di blok 1 dan blok 5 Cluster B. Pemberitaan itu dinilai justru menutupi maraknya praktik jual beli surat perjanjian sewa, dan sewa di atas sewa.
“Yang punya unit rusun banyak itu punya preman–preman bayaran, kalau ada yang ‘ember’ gitu gak lama akan disamperin. Di setiap blok ada aja mata-matanya yang akan ngasih tahu. Makanya warga takut."
Mafia di rusunawa Marunda sulit diberantas karena berlangsung rapi dan melibatkan banyak pihak. Warga tak berani melaporkan praktik penyelewengan itu karena takut dianiaya para preman anggota mafia tersebut.
Warga berharap Jokowi menepati janjinya bahwa penggusuran baru akan dilakukan setelah rumah susun sewa sederhana di Muara Baru untuk warga selesai dibangun.
Kepada warga, para calo tersebut menawarkan uang sebagai ganti rumah yang dibongkar harga beragam. Mulai dari Rp 10 juta, Rp 15 juta sampai Rp 20 juta, tergantung dari kondisi bangunan.
“Siapa yang gak kecewa, semuanya (warga) kecewa. Katanya dua tahun lagi tapi sekarang udah digusur. Orang kalau sudah sekali bohong, selamanya gak akan dipercaya.”