Kuatnya dukungan bagi bakal calon gubernur DKI jalur independen Basuki Tjahaja Purnama, membuat politisi PDIP menganggap ada upaya deparpolisasi. Benarkah?
Sehari setelah lulus ujian sebagai Doktor Bidang Hukum, Anwar Fuady terima telepon dari saudaranya di kampung halaman, Palembang, Sumatera Selatan. Selain ucapan selamat atas keberhasilan menyandang gelar Doktor, sang saudara juga menyampaikan sesuatu yang membingungkan Anwar.
Meski banyak yang pesimis dengan mentalitas para politisi negeri, beberapa di antara mereka tetap memilih mencoblos. Lalu bagaimana dengan para pemilih muda yang gemar merakit robot atau hal-hal yang berbau teknologi?
Jelang pemilihan anggota legislatif, sejumlah baliho nama dan senyum manis caleg pun mulai menghiasi sudut kota. Tak jarang di antaranya adalah artis. Ya, mereka berlomba merebut perhatian masyarakat untuk mengantongi suara.
“Partai juga harus berpikir sama, artinya harus mendistribusikan dan mengalokasikan kader loyal mereka, bukannya politisi yang karbitan jadi caleg dan membuat mereka jadi mobil rentalan.”
Caleg dari kalangan artis yang dibiayai partai sangat mungkin terjadi, mengingat partai punya kepentingan besar yakni mendongkrak suara pemilh. Transaksi kepentingan antar caleg dan partai pun terjadi.
Saat ini masyarakat sudah tau bahwa setiap visi dan misi yang disampaikan seorang politisi saat berkampanye adalah gombal. “Jadi saya ya harus gombal,” kata seorang politisi.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Pramono Anung dalam bukunya, 'Mahalnya Demokrasi Memudarnya Ideologi' memprediksi, ongkos politik bagi pesohor seperti Krisna Mukti tak akan lebih dari Rp 1 miliar.
Bicara tentang demokrasi yang ada di negeri ini tak akan pernah ada habisnya. Bagaimanapun keadaannya, papan catur pentas perpolitikan nasional telah diletakkan. Tidak ada kata lain untuk para elit politik selain bergerak maju menghadapi lawan "lawan tangguh".