Kisah pilu Muhammad Nawawi Pulungan (54) dan Siti Aisyah Pulungan (8) menjadi perhatian dari antropolog. Sistem kekerabatan, klan atau marga dalam adat Batak yang dianggap bisa menjadi katup pengaman dalam persoalan sosial seperti ini, ternyata tidak berlaku.
Muhammad Nawawi Pulungan (54) kini mendapat perawatan di rumah sakit. Sang anak, Siti Aisyah Pulungan (8) pun bakal kembali ke sekolah. Nawawi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantunya.
Pemerhati anak Seto Mulyadi menilai bahwa kasus Siti Aisyah Pulungan (8) yang terpaksa berhenti sekolah dan merawat ayahnya di becak adalah bentuk dari ketidakpedulian masyarakat. Kak Seto mendesak pemkot untuk mencegah hal ini terulang hingga ke tingkat RT dan RW.
Pemkot Medan sudah memikirkan rencana tempat tinggal untuk Siti Aisyah Pulungan (8) dan ayahnya Muhammad Nawawi Pulungan (54). Kemungkinan mereka akan ditempatkan di rusunawa.
Plt Wali Kota Medan Dzulmi Eldin datang, Siti Aisyah Pulungan (8) dan ayahnya segera dibawa ke rumah sakit, meninggalkan becaknya. Kini becak dayung itu terparkir di aula Kantor Lurah Masjid, Kecamatan Medan Kota.
Nasib baik mulai berpihak kepada Siti Aisyah Pulungan (8) dan ayahnya Muhammad Nawawi Pulungan (54). Setelah ayahnya dirawat di rumah sakit, kini Aisyah pun akan segera bersekolah.
Upaya pemulihan kesehatan Muhammad Nawawi Pulungan (54), ayah Siti Aisyah Pulungan (8) kini sedang dilakukan. Perawatannya berlangsung di RSU Pirngadi, Jalan HM Yamin, Medan, Sumut.
Sejak menderita sakit, Muhammad Nawawi Pulungan (54) mengandalkan perawatan pada putri semata wayangnya, Siti Aisyah Pulungan (8). Kepada siapapun yang ingin menolong, Nawawi berharap mereka jangan dipisahkan.