“Bismillah…berangkat kita cuuuyyys…mohon doa restunya ya teman-teman,” ucap Bonita Adi dari grup bonita and the hus Band. Ucapan itu menyertai gambar bertuliskan ‘bonita and the hus BAND goes to museumsuferfest 2015 Frankfurt 28-30 Agustus’ yang diunggahnya di Facebook.
Umumnya, sebuah karya seni gambar diciptakan melalui cat, crayon atau pensil yang dilukis di atas sebuah kanvas. Namun, oleh tangan handal seorang Jessie Bearden karya seni tersebut dituangkannya melalui media makanan.
Penjelajahan karya seni ampas kopi yang dilakukan oleh Ghidaq Al-Nizar tak berhenti sampai di 'Grim Si Anjing Hitam' saja. Tapi mengembang ke daun yang dilukisnya. Daun pun menjadi medium unik sama seperti kanvas.
Perjumpaan Ghidaq Al-Nizar menjadi seniman ampas kopi dimulai dari mitos 'Grim si Anjing Hitam' di seri Harry Potter. Hingga kini, karya-karya buatannya disukai penggemar latte art, pecandu kopi bahkan ia juga sudah diwawancarai media interasional.
Kali ini, culture detikHOT akan membahas mengenai seni ampas kopi. Mulai dari seluk beluknya, profil seniman hingga alasan tren ini disukai oleh seni kontemporer internasional.
Membuat gambar yang indah dari secangkir kopi terasa biasa saja tapi bagaimana kalau berasal ampas kopi? Ya, seniman Bandung bernama Ghidaq al-Nizar mampu mewujudkannya.
Jika pelukis membuat karya seni di atas kanvas, atau seniman grafiti di tembok jalanan kota, lalu bagaimana dengan seniman kaligrafi? Ini kisah sukses seniman kaligrafi dan lettering Jamal Aziz.
Di buku biografi Quraish Shihab: Cahaya, Cinta dan Canda, banyak testimoni menarik dari para tokoh. Mereka bercerita soal sosok Quraish sebagai 'manusia'.