Penolakan dan kritik atas PLTN setelah bencana di Fukushima merupakan hal yang wajar. Mayoritas orang pada umumnya memang membayangkan kecelakaan akan lebih mudah terjadi di Indonesia.
Gempa dan tsunami yang melanda Jepang menimbulkan insiden bertubi-tubi: ledakan dan kebakaran di reaktor PLTN Fukushima Daiichi. Di saat warga Jepang dievakuasi ke zona aman, mereka, para pekerja PLTN dan para sukarelawan harus berjibaku 'menjinakkan' reaktor nuklir.
"Mereka bilang desain PLTN antigempa dan antiserangan teror. Saya percaya dengan teknologi PLTN baru ini. Tapi saya belum setuju, karena itu sumber daya alam kita masih banyak dan murah. Buat apa gagahan, tapi mahal."
Jepang telah memerintahkan penghentian pengiriman makanan tertentu dari empat prefektur setelah tingkat radiasi abnormal ditemukan dalam produk makanan di daerah di dekat dengan PLTN yang dilanda gempa.
20 Ribu orang diperkirakan tewas dan hilang akibat gempa 8,9 SR yang diikuti tsunami di Jepang. Tapi warga Jepang tidak menunjukkan keluh kesah. Mereka tetap disiplin dan terus bekerja. Saling menolong begitu menonjol.
Kementerian Luar Negeri terus melakukan pemantauan terhadap kondisi para WNI di Jepang. Namun, sejauh ini, kondisi negeri Sakura masih cukup stabil sehingga tidak perlu ada kekhawatiran.
Meledaknya PLTN Fukushima Daiichi membuat beberapa produk makanan dari Jepang terkena radiasi. Komisi IX meminta pemerintah mengawasi produk Jepang secara ketat.
Pemeriksaan radiasi tidak hanya dikenakan untuk penumpang dan barang-barang dari Jepang. Kabin pesawat yang baru saja terbang dari Jepang juga tidak luput dari pemeriksaan Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten).