Hari Jum'at lalu menjadi hari yang sangat cepat, bahkan bisa dikatakan terlalu tergesa-gesa. Setelah dua minggu ini terkurung dalam permasalahan yang membekukan hati dan pikiran, percakapan pada Kamis malam membuat saya memutuskan untuk berangkat berlibur.
Makanan yang disajikan di kedai ini mendapat pengaruh Minang dan kuliner Tapsel. Sajiannya sedap, tak heran kalau sejumlah pejabat "tergigit" legitnya masakan Nasrul Sibolga ini.
Suka jalan–jalan sembari menikmati kuliner lokal yang "maknyus". Coba datang saja ke Sumatera, terutama "Ranah Minang" Provinsi Sumatera Barat. Di sini terdapat bermacam–macam kuliner "maknyus" mulai dari sate Padang hingga nasi kapau.
Restoran yang ada di Brunei ini menyajikan menu-menu Indonesia yang serba menggoyang lidah. Apalagi buat yang kangen akan makanan kampung halaman tercinta. Tetapi selain makanan tradisional, resto ini juga menawarkan hidangan unik berupa sate daging wagyu. Wah, pastinya memang bikin penasaran!
Makanan Indonesia disajikan dengan gaya Eropa? Mungkin sesuatu yang sangat jarang ditemukan. Tapi jika Anda berkunjung ke Singapura, akan menemukan resto aneka kuliner Indonesia dengan teknik memasak ala Prancis.
Aroma sate dan kretek menyengat. Asapnya
meliuk-liuk menyatu di udara dengan hingar-
bingar musik dangdut. Polisi Belanda yang lalu-
lalang berpatroli hari itu tak hirau.
Perbedaan waktu dalam merayakan Idul Fitri hendaknya jangan dijadikan sebagai sumber perpecahan, namun justru dijadikan sebagai perekat dalam ukhuwah Islamiyah.