Satu foodcourt lagi dapat dijadikan pilihan untuk tempat makan. Suasananya seperti tempo doeloe dengan aneka stall yang menyajikan beragam menu tradisional. Cocok buat mereka yang memiliki selera makan yang berbeda.
Makanan tradisional kini kembali digrandungi. Tak heran live chatting bareng Pak Bondan banyak menyedot perhatian detikers. Aneka pertanyaan mulai dari lontong cap go meh, sop sodara, sampai cara bikin pindang pun dibahas tuntas!
Sekalipun namanya Waroeng Indo, tetapi rumah makan ini sebetulnya punya menu berbagai masakan gaya Semarangan yang andal. Lunpia (orang Semarang selalu menyebutnya demikian, bukan lumpia!), tahu pong, gimbal udang, nasi goreng babat, dan babat gongso - hanyalah sebagian dari sajian yang ditawarkan dalam daftar menu Waroeng Indo.
Jangan heran! Orang Makassar memang jagoan dalam masakan berkuah, misalnya: coto, pallu basa, pallu mara, pallu kaloa, dan sop saudara. Tidak heran, bila soto betawi pun ber-fusion dengan cantiknya di negeri para daeng ini.
Kalau doyan kerupuk pastinya sudah tak asing lagi dengan yang satu ini. Bentuknya bundar dan lebar, berwarna kuning keriting seperti mi. Rasanya yang renyah dan kriuk saat dikunyah memang paling asik menjadi teman makan. Kriuk kriuk...!
Karena namanya Batavia Resto, saya sempat mengharap akan menemukan berbagai makanan Betawi tradisional, seperti: nasi uduk, soto betawi, dan sebangsanya. Ternyata, items itu tidak tampak di menu. Barulah kemudian saya menyadari bahwa nama Batavia dipilih untuk mewakili suasana tempo doeloe saat sebagian Jakarta masih bernama Batavia.
Penyuka lontong capgomeh, kafe yang pertama kali muncul diawal 1990-an ini bisa jadi pilihan. Lontongnya lembut dan mulus. Opornya bersantan mlekoh dan lodehnya medok dengan isi komplet. Cocok buat disantap hari ini.
Yang namanya soto Betawi pasti hampir semua orang mengenalnya. Tapi kalau soto Jakarta? Hmm, sepintas memang mirip tapi ada yang menjadikannya berbeda. Gerusan sambal kacang sebagai salah satu bumbunya bikin aksen yang gurih dan renyah. Penasaran?