Baru saja "Gong Perdamaian" ditabuh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono (SBY) di Kupang, tiba-tiba kita dirundung setumpuk duka kemanusiaan oleh kerusuahan bermotif agama.
LBH Jakarta mencatat sejak tahun 2001-2011 ada 32 kasus Ahmadiyah dengan warga. Namun dari jumlah itu hanya sedikit yang dibawa ke pengadilan. Dari mereka yang dibawa ke pengadilan itu pun hanya pelaku lapangan.
Salah satu kuasa hukum Abu Bakar Ba'asyir, Muhammad Assegaf, mengatakan serangkaian penangkapan yang dilakukan Densus 88 terhadap kliennya adalah sebuah rekayasa. Dia menuding dalang di balik rekayasa ini adalah pihak asing.
Aktivis pro demokrasi dan HAM menilai pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali yang menyalahkan Ahmadiyah, telah menyulut konflik. Menag pun sudah seharusnya diganti.
Kabar meninggalnya Imanda Amalia juga membuat heboh UGM. Hal ini disebabkan salah satu mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, juga bernama Imanda Amalia. Namun UGM memastikan bila mahasiswanya tersebut dalam kondisi sehat .
United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) menegaskan tidak ada stafnya bernama Imanda Amalia yang dikabarkan tewas dalam konflik di Kairo, Mesir. Juru Bicara UNRWA, Christoper Gunnes membantah berita terkait kematian Imanda.
Imanda Amalia (28) yang menjadi korban kerusuhan di Kairo, Mesir, bukanlah Warga Negara Indonesia (WNI). Dia berdarah Indonesia, namun berkewarganegaraan Australia.