Mencicip makanan di Pasar Terapung ternyata butuh keahlian akrobat. Gelombang-gelombang air yang terjadi akibat laju kelotok-kelotok lain membuat kelotok kami bergoyang kekiri dan kekanan. Membuat kami mengeluarkan teriakan-teriakan kecil. Pengalaman makan penuh tawa yang baru kali ini saya rasakan.
Berjalan kaki menyusuri Sungai Baliem berbalut pemandangan menarik selama perjalanan. Tak salah lagi, ini adalah jalur trekking terindah yang pernah saya lakukan.
Nasi bakar mungkin terlihat biasa, tapi kalau disajikan dengan sambal belut dan dibakar dalam bambu? Hmm.. tentu unik rasanya! Dinikmati dalam keadaan hangat sambil dimanjakan dengan suasana yang nyaman, hmm.. siapa mampu menolaknya?
Rindu masakan Jawa Tengah dengan tone manisnya yang khas? Dapur Solo adalah jawabnya. Bukan hanya makanan berat, bahkan di sini kita dapat menemukan srabi khas Solo. Satu porsi isi lima srabi - boleh pilih berbagai rasa: polos, coklat tabur, keju, nangka, pisang, dan lain-lain.
Sejatinya, setiap tamu yang berkunjung, tidak boleh lebih dari dua malam menginap di kampung-kampung di Baduy Dalam. Dan, jadilah saya, setelah dua malam di Cibeo, pada 12 Oktober 2010, harus meninggalkan Cibeo untuk selanjutnya berdiam selama dua malam lagi di Kaduketuk, Baduy Luar.
Sebelum ada niat ke kampung ini pun, saya sudah tahu kalau mandi tidak boleh menggunakan sabun, pasta gigi, dan lainnya. Tapi, yang saya tidak tahu adalah perihal tata cara berkegiatan antara laki-laki dan perempuan di sungai.
Sudah banyak cerita atau rumor yang beredar soal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di kampung-kampung Baduy Dalam. Nah, berkat perjalanan ke/di Cibeo, saya dengan senang hati merasakan segala pengalaman yang boleh dan tahu apa yang tidak itu. Bahkan, segala aturan adat yang belum pernah saya baca sebelumnya, akhirnya saya ketahui. Berikut pengalaman dan cerita yang paling membuat saya terwah-wah.
Sungguh takjub saat pertama melihat klotok yang akan membawa kami ke Tanjung Puting, yg sekaligus akan menjadi tempat kami tinggal selama 3 hari kedepan. Klotok Pengan nama 'Spirit of the Forest' berukuran 13 kali 2 meter ini benar-benar beda dari bayangan saya semula. Saya berfikir kondisinya akan sangat menyedihkan dan berukuran kecil, namun ternyata saya salah. Apalagi saat saya melihat kamar mandi yg berada di klotok.coba anda tebak! Yup, Shower dan wc duduk,tapi jangan juga berfikir kondisinya akan seindah penginapan, tapi ini juga bagian dari petualangan yang kita cari kan?!
Nama Bale Bengong tentu membuat kita segera berkesimpulan bahwa rumah makan ini menghadirkan masakan Bali. Di Bali, bale bengong adalah penamaan umum atau istilah untuk gazebo. Bila melihat eksterior dan interior-nya, juga musik latarbelakang-nya, terasa sekali ke-Bali-an yang ingin dihadirkan.