Janji Bila Istimewa Tembus 1 Juta Penonton, Buat Rumah Singgah di Setiap Provinsi
Lebih dari sekadar kisah tentang anak-anak mencari ayahnya, Istimewa ingin mengajak penonton melihat kembali arti keluarga dan kehadiran. Keluarga tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah, tetapi juga oleh siapa yang memilih untuk hadir, menjaga, menerima, dan tetap bersama ketika keadaan tidak lagi mudah.
Hal itu juga yang menjadi alasan mengapa perjalanan Istimewa tidak hanya berhenti pada layar lebar. Bagi Abdullah Mansuri, produser Istimewa, yang telah mengikuti perjalanan teman-teman Istimewa dalam waktu panjang mengatakan film ini menjadi kesempatan untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi mereka untuk menunjukkan dan membawa cerita mereka sendiri.
Baca juga: Sutradara Film NAZA Dicap Pengkhianat Israel |
"Buat saya, Istimewa bukan hanya tentang membuat sebuah film, tapi bagaimana kita bisa terus memberikan ruang bagi teman-teman Istimewa untuk tumbuh, berkarya, dan punya tempat yang aman untuk pulang," kata Abdullah Mansuri dalam keterangannya.
"Karena itu, saya punya janji. Kalau Istimewa bisa mencapai satu juta penonton, saya ingin membangun Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi di Indonesia. Saya ingin film ini tidak berhenti sebagai cerita yang kita tonton, tetapi bisa menjadi langkah untuk menghadirkan ruang nyata bagi mereka," lanjutnya.
Janji tersebut menjadi bagian dari harapan di balik film Istimewa. Pencapaian satu juta penonton bukan cuma ditujukan sebagai angka untuk sebuah film, tetapi dapat menjadi momentum untuk menghadirkan lebih banyak ruang yang aman, inklusif, dan kesempatan bagi teman-teman istimewa di berbagai daerah untuk tumbuh dan berkarya.
Sementara itu, Mathias Muchus, yang berperan sebagai Pak Mahendra, melihat hubungan antara ayah dan anak-anak di film ini sebagai gambaran tentang arti keluarga yang lebih luas.
"Yang membuat saya jatuh hati pada Istimewa adalah ketulusannya. Film ini mengingatkan kita bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah, tetapi tentang siapa yang memilih untuk menerima, menjaga, dan tetap hadir ketika kita saling membutuhkan," kata Mathias Muchus.
Perjalanan bersama para pemeran anak-anak dalam film ini juga menjadi pengalaman yang membuat sang sutradara, Ruben Adrian melihat lagi bagaimana sebuah karakter seharusnya dibangun.
"Sejak awal kami ingin menghadirkan film yang bisa mengubah cara pandang seseorang dan dinikmati semua kalangan. Ada tawa, ada petualangan, ada momen-momen yang hangat, tetapi di saat yang sama penonton juga diajak mengenal anak-anak ini sebagai manusia yang utuh," ucapnya.
Sinopsis
Bagi anak-anak di Rumah Istimewa dalam film ini, sosok ayah bukan sekadar seseorang yang hadir dalam keseharian mereka. Pak Mahendra adalah tempat mereka pulang, sosok yang memberikan rasa aman, kasih sayang, sekaligus membuat mereka merasa diterima sebagai diri mereka sendiri.
Namun, ketika sosok yang selama ini menjadi tempat mereka bergantung jatuh sakit, dunia seakan ikut berubah. Ketakutan kehilangan perlahan hadir dan menjadi salah satu titik emosional dalam perjalanan film Istimewa.
Potongan adegan yang dirilis Kairos Film memperlihatkan momen ketika anak-anak harus berhadapan dengan kondisi Ayah. Tangisan yang pecah menjadi gambaran sederhana tentang sebuah ketakutan yang sangat manusiawi: kehilangan seseorang yang begitu berarti.
Baca juga: Mathias Muchus Bicara Film Istimewa |
Melalui perjalanan Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul dalam mencari sang Ayah, Istimewa membawa cerita tentang persahabatan, keluarga, kehilangan, keberanian, hingga penerimaan. Mereka tidak hanya hadir sebagai karakter yang dikasihani, tetapi sebagai anak-anak dengan kepribadian, mimpi, pilihan, dan cerita mereka sendiri.
Pada akhirnya, perjalanan Istimewa bukan hanya tentang menemukan kembali seseorang yang mereka cintai. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah rumah bisa hadir melalui orang-orang yang memilih untuk tetap ada. Aku Istimewa. Kamu Juga Istimewa.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
