Tampil Imersif! Purwacarita Borobudur Ada di Galeri Indonesia Kaya

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Purwacarita Borobudur di Galeri Indonesia Kaya
Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta - Ada yang baru nih di Galeri Indonesia Kaya. Ruang publik edutainment yang ada pusat kota, persisnya di Grand Indonesia West Mall, menghadirkan area imersif terbarunya yang berjudul Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa.

Bukan sembarang imersif, namun kamu diajak buat menyelami lebih dalam kisah di balik asal mula penciptaan Candi Borobudur. Ada 8 pengalaman imersif berbasis Ethical AL yang bisa dinikmati mulai 1 September 2026.

Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan di usia yang menginjak 13 tahun bukan pertama kalinya menghadirkan ruang imersif.

"Sebelumnya ada Basoeki Abdullah, saat kami dikirimkan oleh Bening Digital Indonesia dan langsung tertarik ya. Kami punya visi misi yang sama. Borobudur adalah mahakarya Indonesia yang luar biasa sekali," ucapnya saat jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Selasa (1/9/2026).

Menurut Renita, masyarakat Indonesia banyak yang menyambangi Borobudur dan hanya foto-foto serta kurang mendapatkan literasi di baliknya. Dari situlah, gagasan untuk menampilkan cerita di balik penciptaan Candi Borobudur muncul.

"AI juga sedang berkembang, kami melihatnya AI ini sangat berguna buat kami yang ingin menyambungkan cerita masa lalu dengan sekarang, dengan cara yang lebih menyenangkan," ucapnya.

Selama 6 bulan, persiapan pun dilakukan. Mulai dari pintu masuk, di area selasar GIK sampai ke pintu keluar, dipenuhi oleh karya imersif dengan tema tersebut.

Purwacarita Borobudur di Galeri Indonesia KayaPurwacarita Borobudur di Galeri Indonesia Kaya Foto: Tia Agnes/ detikcom

GIK berkolaborasi dengan Bening Digital Indonesia dan Curaweda, Purwacarita Borobudur menyajikan riset dan fakta sejarah yang telah tervalidasi sebagai pijakan utama buat membangun cerita. Pengunjung diajak menyelami asal mula Kāmulan i Bhūmisambhāra, sebagaimana disebut dalam prasasti kuno, sekaligus mengenal kemegahan kosmologi Candi Borobudur melalui berbagai bentuk
interaksi.

Dengan memadukan proyeksi visual dan teater imersif, relief-relief batu yang selama berabad-abad jadi bagian dari Candi Borobudur dituturkan kembali menjadi rangkaian adegan yang dapat ditonton, dieksplorasi, dan dirasakan secara langsung.

Salah satu yang menarik adalah hukum sebab-akibat atau karma yang ada dalam relief Karmawibhangga. Ada juga kisah cinta Pangeran Sudhana dan Putri Manohara melalui relief Avadana.

"Kami memang ingin fokus mengangkat asal mula dari penciptaan Candi Borobudur saat dibangun. Diawali dari dua tokoh Wangsa Sailendra yaitu Raja Samaratungga yang dilanjutkan ke putrinya, Putri Pramodhawardhani," kata Founder dan CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, saat jumpa pers.

Gak cuma cerita saja, Purwacarita Borobudur juga menghadirkan interaksi secara langsung lewat sensor gerak yang merespons flora dan fauna dalam relief. Seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah. Detikers kalau kamu main-main ke sana, bisa menapaki lagi ruti sakral peziarah purba dari Candi Mendut, Candi Pawon hingga Stupa Induk Borobudur.

Menurut kurator dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Sri Margana, semua yang ditampilkan dalam film berbasis ethical AI yang disajikan dalam opening sesuai dengan hasil riset bersama 14 pakar lainnya.

"Soal karakter pencetus Borobudur, ada keturunan India dan Jawa, karakter fisiknya seperti apa. Konteks sosial-historis seperti apa. Kalau di relief kan detail banget, binatang seperti apa, rumahnya, gerobaknya, alat musiknya, referensi sudah ada di situ. Sejarahnya terakurasi," ucapnya.

Lewat Purwacarita Borobudur, Renitasari juga menambahkan itu adalah cara baru buat mendekatkan kepada generasi muda.

"Dari awal GIK ada, mau mendekatkan budaya dengan gaya hidup masyarakat. Dari awal sudah sejalan dengan teknologi yang berkembang. Awal-awal dengan sensor gerak. Dahulu ucapan 'selamat datang' dari bahasa daerah lalu ke teknologi video mapping. Memakai banyak projector juga, termasuk pemakaian Ethical AI yang berkolaborasi dan juga gak main-main," tukasnya.



(tia/pus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO