Musik Metal Tak Pernah Mati, Magnumotion Loud Fest Siap Guncang Bogor
Hal itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Skena musik metal di Tanah Air sudah berkembang cukup lama dan terus mengalami regenerasi. Vokalis Jasad, Mohamad Rohman atau Man Jasad, bahkan pernah menyebut banyaknya band metal yang bermunculan sebagai sinyal positif bagi perkembangan musik cadas Indonesia.
Menurut Man Jasad, musik metal yang dulunya identik dengan underground kini mulai membangun ekosistemnya sendiri. Mulai dari pasar hingga jejaring, semuanya tumbuh dari komunitas yang memang sudah lama bergerak di dalamnya.
Besarnya skena tersebut juga terlihat dari banyaknya band yang aktif. Dalam wawancaranya dengan detikJabar, Man Jasad menyebut ada 387 band yang mengikuti Metal Battle Indonesia. Di Bandung saja, berdasarkan riset yang pernah dilakukannya pada 2010, terdapat lebih dari 100 band death metal yang aktif.
Regenerasi musik metal Indonesia juga terlihat dari munculnya Voice of Baceprot (VOB). Band asal Garut tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana musisi metal Indonesia bisa berkembang hingga mendapat panggung di luar negeri.
Lebih lanjut, kehadiran VOB sekaligus menunjukkan bahwa musik metal tidak melulu soal siapa yang paling keras. Ada karya, komunitas, dan karakter yang membuat sebuah band bisa menemukan pendengarnya sendiri.
Musik Metal Tetap Punya Tempat di Tengah Tren Musik
Fenomena serupa juga terjadi di tingkat global. Di tengah gempuran musik pop dan tren yang silih berganti, sejumlah band metal masih mampu mempertahankan pendengar lintas generasi.
Metallica, misalnya, tetap menjadi nama besar yang dikenal oleh berbagai generasi. Avenged Sevenfold juga masih punya tempat khusus bagi pendengar Indonesia, sementara Bring Me The Horizon (BMTH) menunjukkan bagaimana musik keras bisa beradaptasi dengan selera pendengar yang lebih muda.
BMTH bahkan menjadi salah satu contoh band yang tidak takut bereksperimen dengan memasukkan unsur elektronik dan pop, serta berkolaborasi dengan musisi dari genre berbeda. Hal tersebut membuat musik mereka bisa menjangkau pendengar yang mungkin sebelumnya tidak terlalu dekat dengan musik metal.
Di Indonesia, keberadaan komunitas menjadi bagian penting dari perjalanan musik keras tersebut. Selama ini para penggemar dan musisi banyak bertemu melalui gigs yang digelar di berbagai kota. Namun, ruang untuk berkumpul dalam skala lebih besar tentu punya daya tarik tersendiri.
Nah, kesempatan itu bisa didapat lewat Magnumotion Loudfest 2026. Festival musik keras ini akan digelar di Sentul Otopark, Bogor.
Magnumotion Loudfest 2026 menghadirkan sejumlah nama dari berbagai spektrum musik keras, seperti Seringai, for Revenge, Stand Here Alone, 510, The Paps, The Jansen, Cloath, hingga Kraken. Line-up tersebut juga mempertemukan musisi dari berbagai generasi sehingga penggemar lama maupun pendengar baru punya alasan untuk ikut meramaikan acara.
Bukan cuma soal menonton penampilan band, festival ini juga menjadi kesempatan untuk bertemu dengan sesama penikmat musik keras dan merasakan langsung atmosfer komunitas yang selama ini tumbuh lewat berbagai gigs.
Punya playlist musik keras yang nggak pernah absen? Jangan berhenti di headphone. Saatnya bawa energi itu ke depan panggung dan rasakan sendiri riuhnya Magnumotion Loudfest 2026 di Sentul Otopark, Bogor, 22 Agustus mendatang.
Ajak teman satu tongkrongan, siapkan tenaga untuk headbang, dan cek informasi serta ketersediaan tiketnya di detikEvent. Siapa tahu, 22 Agustus nanti jadi momen gigs yang paling seru tahun ini.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
