Riar Rizaldi Ajak Jelajahi Pengalaman Sinematik ke Museum MACAN

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Perupa Riar Rizaldi di Museum MACAN
Foto: Dok.Anisa Hafifah/ Detikcom
Jakarta - Museum MACAN menghadirkan pameran komisi dengan sutradara sekaligus perupa Riar Rizaldi yang dibuka untuk umum pada 13 Juni 2026. Eksibisi berjudul Period Piece, pameran museum pertamanya di Indonesia setelah menjalani karier internasional ngajak detikers buat menjelajahi pengalaman sinematik di ruang galeri.

Beda dari lainnya dari 5 pameran seni lainnya yang ada di Museum MACAN, lorong karya ciptaan Riar Rizaldi tergolong gelap, sunyi, agak menakutkan, dan meresahkan bagi yang melihatnya.

Riar mengatakan karya-karya yang dibuatnya kebanyakan berinteraksi dengan sains, teknologi, dan sinema.

"Saya ingin menyampaikan di sini tuh kayak bagaimana teknologi memaksa kita untuk melihat gambar bergerak itu secara berbeda atau ada sesuatu di balik gambar bergerak itu," katanya saat diwawancarai redaksi detikcom di Museum MACAN, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (11/6/2026).

Lewat pameran yang ditampilkan, Riar membuat semacam bioskop dan juga lobi bioskop yang diolah seakan ngajak nostalgia ke masa lampau. "Makanya di pameran ini saya membuat kayak semacam bioskop, lobi bioskop yang saya olah dan juga ada dua ruang menonton dengan dua karya film saya gitu," ungkapnya.

Dari bagian depan area pameran Period Piece, Riar menghadirkan Bioskop Asymptotic (2026), sebuah instalasi baru yang dikerjakan atas komisi Museum MACAN, yang membayangkan ulang lobi bioskop Indonesia era 1990-an sebagai ruang di mana waktu seolah terhenti secara spekulatif. Karya ini ditampilkan bersama Fanfictie: Volcanology (2025) yang ada di ruangan berikutnya.

Perupa Riar Rizaldi di Museum MACANPerupa Riar Rizaldi di Museum MACAN Foto: Dok.Anisa Hafifah/ Detikcom

Karya kedua mengkaji benturan antara ilmu pengetahuan kolonial Belanda dan kosmologi Jawa, serta karya seni instalasi ketiga adalah Tropenkolder (2026). Karyanya dikerjakan atas komisi Eye Filmmuseum, Amsterdam, dan menengok kembali film-film phantom-ride serta pemogokan buruh kereta api tahun 1923 untuk merenungkan sinema, buruh, dan kelambatan sebagai bentuk perlawanan terhadap akselerasi.

Uniknya, di salah satu ruangan ia sengaja menampilkan kursi bioskop rotan yang didapatkannya dari Padang, Sumatera Barat, dan diboyong ke Museum MACAN.

"Kursi ini dari tahun 1970-an, kursi rotan lama dan agak pipih. Saya tuh tumbuh dan besar di Bandung, sering ke Pasundan Teater. Bioskop kelas B yang horor dan jadul, bisa dibilang kotor tapi ada elemen estetika dilihat dari fasad yang berantakan. Transisi dari bioskop yang mulai dikomersialisasi," terangnya.

Lewat karya-karyanya, Riar ingin mengajak siapapun untuk datang dan kembali mengingat masa keemasan bioskop masa lampau yang membangkitkan rasa 'nostalgia masa depan'.

Sebelum pameran di Museum MACAN, Riar Rizaldi memboyong karyanya ke MoMA, New York, Centre Pompidou, Paris, Venice Architecture Biennale, serta festival film bergengsi termasuk Berlinale, Locarno, IFFR, dan BFI London.




(tia/dar)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO