K-Drama
Perfect Crown Dicap Distorsi Sejarah, Penonton Bikin Petisi di Majelis Nasional
Dilansir dari berbagai sumber, petisi protes terhadap drama Korea Perfect Crown di Majelis Nasional mencapai ambang batas 60% tanda tangan dalam waktu dua hari sejak dibuat.
Kalau dalam 30 hari ke depan petisi ini dapat 50 ribu tanda tangan, Majelis Nasional secara hukum diwajibkan merujuk petisi ini ke komite tetap parlemen yang relevan untuk peninjauan formal.
Deadline petisinya 21 Juni 2026.
Petisi publik ke Majelis Nasional terhadap drama Korea Perfect Crown berisi tiga poin utama. Berikut di antaranya:
1. Penangguhan siaran segera. Publik menuntut agar Komisi Standar Komunikasi Korea dan lembaga terkait turun tangan untuk secara resmi memberikan sanksi kepada acara tersebut.
2. Penghapusan permanen. Publik memaksa penghapusan total drama Korea tersebut dari semua platform streaming domestik dan global (termasuk Disney+) untuk mencegah penyebaran sejarah Korea yang terdistorsi secara internasional.
3. Sanksi institusional. Publik meminta pemerintah terkait menerapkan sanksi permanen, seperti mengecualikan perusahaan produksi yang melanggar dari pendanaan pemerintah dan membatasi izin siaran mereka, agar para kreator tidak dapat menggunakan 'fiksi' sebagai tameng merusak identitas nasional.
Sejauh ini belum ada respons dari MBC atau Disney+ terkait petisi publik ini. Tapi stasiun TV sudah menegaskan akan menghapus adegan yang bermasalah.
Berikut ini detail yang disebut distorsi sejarah dalam drama Korea Perfect Crown, dilansir dari Korea JoongAng Daily:
Pertama, mahkota yang digunakan oleh Ian saat naik takhta. Setelah proklamasi Kekaisaran Korea tahun 1897 oleh Raja Gojong, yang menegaskan status Korea sebagai negara berdaulat, mahkota yang digunakan seharusnya punya 12 rumbai.
Tapi tim produksi Perfect Crown menggunakan properti mahkota 9 rumbai. Dalam konteks sejarah, mahkota 9 rumbai ini menandakan sebuah kerajaan/negara masih dalam kekuasaan kekaisaran lain yang lebih besar (dalam hal ini Tiongkok).
Kedua, masih dalam adegan taik takhta dan terkait poin pertama, dialog yang digunakan juga jadi masalah. Tim produksi menggunakan dialog 'Cheonse!' (berarti 'Hidup panjang seribu tahun!') yang digunakan saat penguasa naik di bawah kekaisaran naik takhta.
Seharusnya, kalau dalam konteks cerita Korea sudah berdaulat, dialog yang digunakan adalah 'Manse!' (berarti 'sepuluh ribu tahun!').
Ketiga, adegan dari episode terdahulu yang berujung dibahas lagi setelah kontroversi episode 11 mencuat. Yakni ketika Seong Hui Ju (IU) menuangkan air ke dalam wadah penampung, yang disebut meniru etiket minum teh Tiongkok.
Detail-detail ini dianggap distorsi serius terhadap sejarah Korea, oleh penonton Negeri Ginseng. Udah masuk ke ranah sensitif banget.
Dalam sejarahnya, Goryeo (918-1392) dan Joseon (1392-1910) mempertahankan hubungan upeti dengan dinasti kekaisaran Tiongkok. Menyerahnya Raja Injo (1595-1649) kepada Kaisar Qing pada tahun 1936 dianggap sebagai penghinaan nasional. Hal ini diajarkan dalam buku teks sejarah Korea Selatan.
So, menampilkan adegan yang menggunakan kostum periode yang dianggap hina ini sangat menyinggung dan gak sensitif pada sejarah Korea sendiri. Seolah menodai deklarasi kedaulatan Korea oleh Raja Gojong pada 1897.
(aay/tia)











































