Meryl Streep Kritik Tren Marvelisasi Hollywood: Membosankan!
Dalam sesi bincang-bincang eksklusif di sela-sela Festival Film Cannes, pemenang tiga Piala Oscar ini melontarkan kritik tajam terhadap tren "Marvelisasi" di Hollywood, yang menurutnya telah membuat lanskap perfilman modern menjadi membosankan dan kurang akan sentuhan kemanusiaan.
Streep, yang hadir untuk menerima penghargaan kehormatan Palme d'Or, menyatakan keprihatinannya terhadap dominasi film-film blockbuster berbasis waralaba yang cenderung mengikuti formula serupa.
Menurut Streep, industri saat ini terlalu terobsesi dengan konten yang aman secara komersial sehingga mengorbankan kedalaman narasi.
Ia menggunakan istilah "Marvelize" untuk menggambarkan fenomena di mana film-film diproduksi seperti barang pabrikan-mengandalkan efek visual besar dan struktur plot yang dapat diprediksi.
"Semuanya mulai terasa seragam," ujar Streep dilansir dari Variety (2/5).
"Ketika sebuah industri hanya fokus pada apa yang sudah pasti laku, kita kehilangan elemen kejutan. Kita kehilangan karakter yang kontradiktif, berantakan, dan benar-benar manusiawi. Film-film sekarang terasa seperti makanan cepat saji; memuaskan sesaat, tapi tidak meninggalkan nutrisi bagi jiwa."
Ia secara khusus menyoroti bagaimana studio-studio besar kini lebih berani menggelontorkan ratusan juta dolar untuk sekuel atau spin-off pahlawan super dibandingkan berinvestasi pada drama orisinal yang berfokus pada karakter.
Menariknya, Streep membandingkan situasi saat ini dengan salah satu film ikoniknya, The Devil Wears Prada (2006). Ia mencatat bahwa film tersebut sukses bukan karena ledakan atau pahlawan super, melainkan karena karakter Miranda Priestly yang kompleks dan narasi yang tajam tentang ambisi serta kekuasaan.
"Bayangkan jika The Devil Wears Prada dibuat hari ini," katanya berseloroh.
"Mungkin mereka akan mencoba mengubah Miranda Priestly menjadi penjahat super dengan kekuatan telekinetik. Padahal, kekuatan Miranda yang sesungguhnya ada pada tatapan matanya dan caranya menjatuhkan mental seseorang hanya dengan satu kata 'That's all'."
Komentar ini muncul di tengah rumor yang terus berkembang mengenai kemungkinan sekuel atau reboot dari film klasik tersebut, yang menurut Streep harus tetap berpijak pada realitas karakter jika ingin berhasil di era sekarang.
Kritik Streep ini sejalan dengan kebijakan baru Academy Awards (Oscar) yang mulai memperketat aturan mengenai penggunaan AI dan penegasan terhadap kreativitas manusia.
Baginya, teknologi-baik itu CGI yang berlebihan maupun AI-hanyalah alat yang sering kali justru menjadi "pengalih perhatian" dari inti sebuah cerita.
Meskipun ia tidak meremehkan bakat para aktor yang terlibat dalam film-film Marvel, Streep mendesak para eksekutif studio untuk kembali memberikan ruang bagi "ketidaksempurnaan manusia" di layar lebar.
"Penonton butuh melihat diri mereka sendiri di layar-bukan dalam bentuk dewa yang bisa terbang, tapi dalam bentuk manusia yang ragu, salah, dan tumbuh," paparnya.
"Jika kita terus melakukan 'Marvelisasi' pada setiap cerita, kita akan berakhir di dunia sinema yang sangat sunyi dan membosankan."
Pernyataan Streep ini diprediksi akan memperkuat perdebatan antara pendukung sinema komersial berskala besar dan mereka yang memperjuangkan kembalinya film-film berbasis karakter di Hollywood.
(ass/tia)











































