Round Up

PHK Massal Karyawan Sony Pictures Sisir Berbagai Bagian

Asep Syaifullah
|
detikPop
BARCELONA, SPAIN - JUNE 18: The stars and filmmakers of SPIDER-MAN: HOMECOMING, actors Tom Holland, Zendaya and director Jon Watts appear in Barcelona on the occasion of the CineEurope event on June 18, 2017 in Barcelona, Spain. (Photo by Robert Marquardt/Getty Images for Sony Pictures)
Foto: Robert Marquardt
Jakarta - Kabar kali ini datang dari Sony Pictures yang mengumumkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dalam memo internal yang dilansir Variety, Rabu (8/4/2026), CEO baru mereka, Ravi Ahuja, menjelaskan keputusan ini merupakan bagian dari upaya menjadikan Sony perusahaan yang lebih 'lincah' dalam menghadapi pasar yang kian kompetitif.

Sony Pictures Entertainment (SPE) resmi memangkas ratusan posisi di berbagai divisi film, televisi, dan operasional korporat secara global.

"Industri kita terus mengalami perubahan yang sangat cepat. Untuk tetap unggul, kita harus beroperasi dengan fokus, kecepatan, dan keselarasan yang lebih besar. Hal ini menuntut kita untuk menyelaraskan organisasi dengan ke mana arah bisnis ini akan pergi bukan di mana bisnis ini pernah berada," tegas Ahuja dalam memo tersebut.

Laporan dari LA Times merinci pengurangan staf ini tidak terpusat pada satu area saja, melainkan menyisir berbagai lini:

Sony Pictures Television (SPT): Divisi produksi dan distribusi TV internasional mengalami penyesuaian untuk merespons melambatnya pasar sindikasi tradisional.

Motion Picture Group: Meskipun sukses besar di box office belakangan ini, unit film layar lebar tetap mengalami perampingan staf pendukung.

Unit Korporat: Departemen seperti pemasaran, sumber daya manusia, dan keuangan turut terdampak guna mengurangi tumpang tindih birokrasi.

Pixomondo: Unit efek visual (VFX) pemenang Emmy milik Sony dikabarkan mengalami perubahan struktur operasional yang signifikan sebagai bagian dari efisiensi ini.

Langkah tersebut mencerminkan filosofi Ahuja, memprioritaskan kapabilitas unik Sony yang tidak dimiliki pesaingnya, terutama integrasi dengan ekosistem teknologi dan hiburan Sony Group yang lebih luas.

PHK ini bukanlah sekadar pemotongan biaya demi bertahan hidup, melainkan pengalihan sumber daya ke sektor-sektor yang lebih menguntungkan. Sony sekarang melipatgandakan taruhan pada:

1. Ekspansi Anime: Melalui Crunchyroll, Sony melihat potensi pertumbuhan masif di pasar global yang tidak terikat pada pola distribusi Hollywood konvensional.

2. Sinergi PlayStation: Sony semakin fokus pada konvergensi antara film dan game (seperti kesuksesan The Last of Us dan Uncharted).

3. Model 'Arms Dealer': Berbeda dengan Disney atau Warner Bros. yang memiliki layanan streaming boros biaya, Sony tetap pada strateginya sebagai penyedia konten (penjual senjata) bagi platform streaming lain seperti Netflix dan Disney+.

Langkah Sony ini menjadi sinyal kuat 2026 adalah tahun pembersihan bagi studio besar. Setelah hiruk-pikuk pemulihan usai pandemi dan mogok kerja penulis/aktor tahun lalu, perusahaan media kini lebih memilih tim yang kecil namun terspesialisasi.

Bagi para pekerja di Culver City, pengumuman ini merupakan pil pahit. Namun bagi para investor, ini adalah bukti bahwa Sony serius untuk tetap menjadi pemain paling efisien dan menguntungkan di Hollywood tanpa harus terjebak dalam perang modal layanan streaming yang membara.


(wes/mau)

TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO