Round-Up

Baliho Film Aku Harus Mati Bikin Heboh-Diturunkan Satpol PP, Ini Kata Produser

Muhammad Ahsan Nurrijal
|
detikPop
Poster Film Aku Harus Mati
Foto: Istimewa
Jakarta - Promosi film horor berjudul Aku Harus Mati sempat memicu perdebatan karena visual billboard-nya yang dinilai terlalu ekstrem. Belakangan, materi iklan yang tersebar di beberapa titik jalanan di Jabodetabek mulai diturunkan.

Produser film Aku Harus Mati, Iwet Ramadhan, memberikan klarifikasi penurunan materi iklan tersebut bukan karena adanya tekanan namun memang sudah sesuai dengan jadwal strategi pemasaran yang telah disusun.

Meskipun billboard tersebut menuai respons beragam, pihak rumah produksi menegaskan bahwa mereka tetap memegang teguh aturan yang berlaku. Iwet menyatakan seluruh materi promosi termasuk desain billboard yang kontroversial, telah melewati proses penilaian resmi dari lembaga pemerintah sebelum dipasang ke publik.

"Seluruh cast itu mengapresiasi yang sangat dalam kepada Lembaga Sensor Film dan juga Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Kenapa? Karena semua materi kita sudah dievaluasi sama mereka, sudah dievaluasi lalu kemudian diberikan persetujuan," kata Iwet Ramadhan dalam wawancara virtual, Sabtu (4/4/2026).

Mengenai tudingan pihak rumah produksi bersikap acuh terhadap sensitivitas masyarakat, Iwet Ramadhan menyatakan mereka memilih untuk tidak bersikap reaktif di media sosial. Baginya, mengikuti aturan main dan fase promosi yang legal jauh lebih penting ketimbang terlibat dalam perselisihan yang berpotensi menjadi blunder bagi filmnya.

"Kita tidak mau reaktif menanggapi isu-isu yang terjadi. Kenapa? Karena kalau misalnya kita reaktif, kita bergerak secara sporadis, malah nanti blunder gitu. Sehingga balik lagi kan nggak elok kalau kita perangnya di sosmed. Jadi makanya kita betul-betul ikuti aturan, kita ikuti fase-fasenya baru kemudian setelah semuanya beres ya kita bicara," terangnya.

Ia berharap publik bisa menyaksikan langsung film tersebut di bioskop untuk memahami pesan moral yang ingin disampaikan. Penurunan billboard ini sekaligus menandai peralihan fokus promosi mereka.

"Menilai hanya dari judul itu tidak akan mendapatkan seluruh pesan yang disampaikan lewat film ini. Kita lihat dulu, kita pelajari baru kemudian kita bisa ngomong atau nge-judge," pungkasnya.

Sebelumnya, baliho film Aku Harus Mati itu menuai kontroversi karena dianggap men-trigger pengidap depresi dan masalah kejiwaan. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengeluarkan pernyataan keprihatinan resmi. PDSKJI menilai bahwa kalimat-kalimat bernuansa keputusasaan di ruang terbuka dapat menjadi pemicu (trigger) yang berbahaya bagi individu dengan kerentanan mental.

PDSKJI menekankan bahwa ruang publik diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak, remaja, hingga mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Paparan pesan kematian tanpa konteks yang tepat dikhawatirkan dapat meningkatkan kecemasan secara kolektif.

"Paparan berulang pesan tentang kematian dan keputusasaan tanpa konteks yang tepat dapat meningkatkan distres, kecemasan, dan berpotensi menjadi pemicu bagi mereka yang memiliki riwayat depresi atau ide bunuh diri," tulis Humas PP PDSKJI dalam rilis resminya dikutip detikcom, Minggu (5/4/2026).

Satpol PP DKI pun sudah menurunkan baliho-baliho tersebut di sejumlah titik jalanan. Kasatpol PP DKI Jakarta Satriadi Gunawan menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan biro reklame yang menayangkan iklan tersebut. Hasilnya, billboard film tersebut diturunkan.

"Sudah, sudah, iya. Jadi kita sudah koordinasi sama biro reklamenya untuk segera menurunkan. Betul, betul (yang menurunkan bilboard pihak biro)," kata Satriadi ketika dihubungi, Minggu (5/4/2026).

Film yang ditulis oleh Aroe Ama ini mengikuti kisah Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik.

Demi mengejar kemewahan, ia terjerumus dalam lingkaran utang pinjaman online dan paylater. Dalam keputusasaan, Mala kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan dan bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jago (Bambang Paningron).


(tia/pus)

TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO