Menanti Debut Akting Billie Eilish dalam Adaptasi Kelam The Bell Jar
Berita yang pertama kali diembuskan secara eksklusif oleh Variety (12/3) ini langsung memicu perbincangan panas. Bukan cuma soal transisi Billie dari musik ke akting, tapi soal keberaniannya mengambil peran yang dianggap sebagai salah satu karakter paling sulit dan emosional dalam literatur modern.
Billie akan memerankan Esther Greenwood, seorang mahasiswi berbakat yang magang di sebuah majalah ternama di New York pada tahun 1950-an. Di balik gemerlapnya kota, Esther justru perlahan-lahan kehilangan pegangan pada realita dan terperosok ke dalam depresi klinis yang sangat gelap.
Bagi para penggemar setia (alias para Avocado), pemilihan peran ini terasa sangat personal. Sepanjang karier musiknya, Billie tidak pernah malu membahas isu kesehatan mental, kecemasan, dan rasa terisolasi. Melihat Billie membawakan monolog ikonik Esther Greenwood rasanya seperti melihat perpaduan dua dunia melankolis yang sempurna.
Keseriusan proyek ini terlihat dari jajaran orang di belakang layar seperti Sarah Polley (Women Talking) ditunjuk sebagai sutradara. Polley dikenal sangat ahli dalam membedah psikologi wanita di layar lebar tanpa terasa eksploitatif.
Film ini kabarnya akan diproduksi di bawah bendera A24 (meskipun belum dikonfirmasi resmi, getarannya sangat "A24-core") yang memang jagonya film-film artistik nan gloomy.
Novel The Bell Jar sering dianggap sebagai "buku suci" bagi mereka yang bergelut dengan kesehatan mental. Adaptasi sebelumnya di tahun 1979 dianggap gagal menangkap esensi penderitaan Esther yang sebenarnya.
Kini, dengan Billie Eilish di depan kamera, ada dua kubu reaksi:
* Kubu Antusias: Mereka yang melihat akting singkat Billie di serial Swarm garapan Donald Glover tahun lalu tahu bahwa gadis ini punya bakat akting alami yang "creepy" namun memikat.
* Kubu Skeptis: Para pembaca setia Sylvia Plath yang khawatir apakah seorang megabintang pop bisa menanggalkan persona panggungnya untuk menjadi Esther yang rapuh dan hancur.
Langkah ini menandai babak baru bagi Billie. Jika ia berhasil, ia bisa mengikuti jejak Lady Gaga atau Cher sebagai penyanyi yang juga diakui sebagai aktris papan atas.
Apalagi, film ini dijadwalkan mulai syuting pada pertengahan 2026 di New York, tepat setelah Billie menyelesaikan rangkaian tur dunianya.
Proyek ini diprediksi bukan sekadar film "musim panas" biasa, melainkan sebuah amunisi kuat untuk musim penghargaan tahun 2027. Jangan kaget jika di tahun tersebut, Billie tidak hanya membawa pulang trofi untuk Best Original Song, tapi juga masuk nominasi Best Actress.
Satu hal yang pasti, siapkan tisu dan mental yang kuat, karena kolaborasi Billie Eilish dan Sarah Polley dalam The Bell Jar ini dipastikan bakal bikin kita semua galau berjamaah di bioskop.
(ass/tia)











































