Perizinan dan Venue Bikin Konser di Indonesia Mahal, tapi Menjanjikan

Pingkan Anggraini
|
detikPop
Ultra Beach Bali
Foto: Ultra Beach Bali
Jakarta - Berbincang dengan CEO Color Asia Live, David Ananda, membuka segelintir pengetahuan baru tentang pengadaan konser musik di Indonesia nih, terutama mendatangkan musisi luar negeri, ya.

David menyebut menggelar konser internasional di Indonesia hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi biaya venue dan perizinan.

Tapi, ia menilai industri konser Tanah Air telah mengalami kemajuan signifikan dan memiliki potensi pasar yang sangat besar dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara.

"Kalau dibandingkan zaman dulu, sekarang sudah jauh lebih baik. Dulu di era 80-an dan 90-an tantangannya lebih berat karena sistem belum rapi. Sekarang memang masih ada tantangan, terutama soal harga venue dan perizinan yang tidak semudah di negara lain," ujar David saat ditemui di Hotel The St Regis, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (13/1/2026).

Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Singapura, terutamaproses perizinan konser dinilai lebih transparan dan terstruktur. "Di Singapura semuanya jelas, sudah online dan on paper. Sementara di Indonesia, masih ada proses yang belum sepenuhnya terintegrasi," jelasnya.

Meski demikian, David tetap mengapresiasi upaya pemerintah dalam beberapa tahun terakhir untuk memperbaiki tata kelola industri hiburan. Ia menyebut perbaikan sistem perizinan mulai terasa sejak masa Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, yang mendorong konsep perizinan satu pintu dan kini dilanjutkan oleh menteri berikutnya.

"Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan 10 atau 20 tahun lalu. Indonesia sudah on the right track. Selama kita menjalankan prosedur dengan benar dan saling memahami, baik dari sisi perizinan maupun venue, sebenarnya tidak ada masalah," kata David.

Di balik mahalnya biaya produksi konser, David menegaskan Indonesia memiliki kekuatan besar yang tidak dimiliki banyak negara lain. Ya, yang dimaksud adalah pasar yang sangat potensial.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan minat tinggi terhadap musik, konser internasional di Indonesia kerap mencatatkan penjualan tiket yang impresif.

Ia mencontohkan konser Westlife yang digelar Color Asia Live. Di Singapura, penjualan tiket baru mencapai sekitar 75 persen, sementara di Indonesia, konser malam kedua pada 10 Februari sudah sold out.

"Itu sebabnya kami berani membuka pertunjukan berikutnya di Surabaya. Pengumuman resminya akan segera menyusul," ungkapnya.

David juga menilai bisnis konser di Indonesia memiliki karakter yang mirip dengan industri film, di mana daya beli dan antusiasme masyarakat sangat tinggi.

"Anak muda Indonesia punya daya beli yang bagus dan masyarakat kita memang suka musik. Saya optimistis ke depan industri konser dan live show akan semakin baik, bahkan bisa menjadi yang terdepan di Asia Tenggara," jelas David lagi.


(pig/dar)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO