Round Up
Buka Rahasia VFX Avatar: Fire and Ash
Di film ketiga, Avatar: Fire and Ash, kita diajak kenalan sama sisi Pandora yang lebih panas dan gahar. Tapi yang paling bikin melongo bukan cuma ceritanya, melainkan teknologi visualnya yang makin gak masuk akal kerennya.
Pada film kedua kita terpukau sama airnya, di film ketiga ini tantangannya lebih banyak dengan elemen lingkungan baru lain kayak api, kawah, gurun dan momen mereka teler.
Kalian bisa bayangin gak sih, susahnya bikin api yang kelihatan beneran panas dan abu yang terbangnya alami di layar bioskop. Tim VFX-nya, beneran harus belajar lagi dari nol buat bikin simulasi elemen-elemen ini, biar mata kita gak bisa bedain mana yang asli dan mana yang buatan komputer.
Salah satu yang paling canggih di film ini adalah bagaimana mereka menangkap ekspresi para aktor. James Cameron, gak mau ada satu pun kedipan mata atau tarikan otot wajah yang hilang. Mereka harus melakukan proses pengambilan gambar (performance capture) secara dua tahap.
Pertama diambil oleh Lightstorm Entertainment (perusahaan milik James Cameron), lalu ada produk akhirnya yang disebut template dikirim ke Wētā FX.
"Kami melakukan sekitar 50 persen pekerjaan, dan kemudian mereka melakukan 50 persen pekerjaan. Kami berdua dihadapkan pada masalah yang sama, yaitu: Bagaimana kita menghasilkan 3.500 bidikan? Tentu saja, kami semua bangga dengan pekerjaan wajah yang kami lakukan," ujar James Cameron.
Tentu saja, akting para pemeran utama adalah yang menjadi inti dari pengambilan gambar performa.
"Tidak peduli seberapa spektakuler gambarnya, jika Anda tidak terhubung dengan karakter, Anda tidak akan ikut dalam perjalanan tersebut," kata Richard Baneham, pengawas VFX Avatar: Fire and Ash.
"Oona Chaplin dan Stephen Lang melakukan pekerjaan luar biasa dalam memerankan Varang dan Quaritch; dinamika hubungan itu kuat dan penting bagi kami untuk menangkapnya, bukan hanya dari sudut pandang sistem pengambilan gambar tetapi juga untuk menghidupkannya di layar. Ritme dari representasi dalam narasi dari adegan ke adegan, penyuntingan film, alur lengkap karakter-karakter tersebut dan kepercayaan pada kebenaran pilihan mereka. Bahkan penampilan hebat dari seorang aktor pun bisa menjadi tidak selaras jika tidak ditangani dengan benar."
Baneham juga menyebutkan, mereka selalu berusaha untuk melindungi setiap detail penampilan selama proses pembuatan film. Gak cuma itu, setelahnya mereka gak pernah lupa bagaimana takjubnya saat melihat hasilnya.
"Kami mendapat hak istimewa untuk menampilkan Oona saat adegan-adegan yang sudah sepenuhnya rampung mulai dibuat, dan yang menarik adalah melihatnya menatap karakternya seolah-olah itu bukan dirinya sendiri sebagai sebuah penampilan," katanya.
Film Avatar ketiga memperkenalkan penonton pada suku-suku Na'vi baru. "Anggota Klan Ash, tidak tampak seperti Na'vi saat pertama kali Anda melihat mereka atau cara mereka bertindak karena mereka hampir primitif," ujar Eric Saindon, pengawas VFX di Wētā FX.
"Cara Oona memerankan Varang, dia langsung mengenali karakternya, jadi ketika Anda menontonnya di layar, Anda tidak akan berpikir itu Neytiri."
(wes/pus)











































