Lukisan 'Pamflet' ala SBY, Kasih Pesan Setop War dan Jaga Perdamaian

Lukisan itu sarat makna dengan mengunggah rasa. Bangunan dan kota tampak terbakar. Ada kontras antara langit biru dengan merah menyala dari api, di sisi bawah SBY secara tegas kasih tulisan 'Stop War' dari karton kardus.
Kurator pameran Suwarno Wisetrotomo cerita lukisan karya SBY punya pesan dan makna yang jelas.
"Dalam konteks seni dan perdamaian, Pak SBY melakukan penjelajahan menarik, ada pesan yang langsung menohok pada perdamaian. Langsung setop war, ada bendera PBB yang patah," ucapnya saat ditemui di Ashta District 8, kawasan SCBD, Jakarta Selatan pada Jumat (29/8).
Kurator seni independen yang telah melanglang buana dalam skena seni Indonesia itu mengambil metafora dari omongan Profesor Teeuw ada yang disebut sebagai 'puisi pamflet', namun di karya SBY jadi 'lukisan pamflet'.
"Bahwa perdamaian dikatakan dengan terus terang, gak terbungkus metafora. Saya sepakat dengan pesan perang itu karena membayangkan kedalaman makna pedang sebagai kekalahan intelektual," ucapnya.
Dalam pameran seni tersebut, SBY juga nampilin 7 lukisan lainnya yang juga punya kedalaman akan perdamaian dan alam semesta. Ada karya yang menyiratkan hubungan manusia dengan Tuhan-Nya.
"Setiap lukisan punya kekuatan masing-masing, ini cara Pak SBY merekam semesta dan lanskap bentang alam. Ketika merekam kebesaran alam, betapa kita kecil di hadapan-Nya, di hadapan keindahan luar biasa ini," tegasnya.
SBY Art Community yang berdiri sejak Januari 2025 jadi jembatan bagi para anggota senimannya buat berkumpul, berjejaring, dan jadikan seni seni sebagai ruang kolaboratif.
"SBY Art Community menghubungkan banyak seniman, dari empat institusi seni sampai pelukis independen. Komunitas ini ingin menunjukkan bahwa seni bisa menjadi ruang bersama, tempat kita belajar, merenung, dan terinspirasi. Karena pada akhirnya, seni bukan hanya untuk dilihat, tapi juga untuk dirasakan," tukas Suwarno.
(tia/nu2)